Sejarah mencatat bahwa umat Islam pernah berada di posisi terdepan dalam peradaban dunia. Belakangan sebuah kenyataan juga tidak terbantahkan ketika umat Islam harus mengakui keunggulan komunitas lain dalam berbagai aspek kehidupan. Sebagai upaya mengembalikan kejayaan masa lalu, Muhammad Iqbal menyeru umat Islam untuk tidak terbuai dengan kegemilangan atau romantika masa lalu dan melarang untuk taqlid buta pada pemikiran masa lalu yang mengakibatkan hilangnya kreasi dan inovasi dalam menghadapi realitas perkembangan zaman. Muhammad Iqbal juga menyeru umat Islam untuk tidak bersikap apriori terhadap Barat, sebaliknya dapat memanfaatkannya dan meresponsnya dengan kritis. Hal ini disebabkan Muhammad Iqbal cukup lama mengikuti pendidikan di Barat yang dipenuhi oleh semangat penelaahan dan penelitian ilmu pengetahuan yang tinggi, sehingga ia dengan jelas melihat dan merasakan langsung bergantinya aktifitas ilmiyah dari Timur ke Barat. Hal ini cukup membuatnya kagum dan menginginkan umat Islam untuk mengikuti semangat Barat dalam melakukan kajian-kajian ilmiyah yang notebene pernah dilakukan sebelumnya. Muhammad Iqbal juga menyadari bahwa faktor tersebut di atas tidak akan bermanfaat apa-apa apabila umat Islam sendiri tidak memiliki semangat dan kemauan untuk berobah. Kemunduran umat Islam dewasa ini secara garis besar disebabkan oleh 2 faktor; internal dan eksternal. Kedua faktor itu harus dibenahi demi mengembalikan kecemerlangan masa lalu. Dengan mengutip QS. Al-Ra’d ayat 11, Muhammad Iqbal mencoba mengembangkan gagasannya mengenai khudi yang notabene merupakan hakikat dari kemanusiaan itu sendiri. Menurutnya moralitas suatu bangsa ditentukan oleh pandangan masyarakatnya mengenai khudi ini, dan segala sesuatu di alam ini memiliki khudinya sendiri-sendiri. Setiap khudi akan bergerak maju sehingga mencapai titik perkembangannya masing-masing.
Copyrights © 2018