Pengusahaan panas bumi di Indonesia masih didominasi penggunaan pembangkit listrik panas bumi konvensional dengan kapasitas besar, yang memerlukan proses lama dalam pengusahaannya. Disisi lain, energi panas bumi dalam RUEN ditargetkan untuk berkontribusi sebesar 7.242 MWe pada tahun 2025. Dengan sisa waktu yang dimiliki, masih ada sekitar 5400 MWe belum dibangkitkan. Kajian ini dilakukan untuk menunjukan seberapa efektif sebuah unit wellhead generator menggantikan pembangkit konvensional untuk mencegah kerugian akibat adanya sumur-sumur yang idle (belum digunakan) selama menunggu pengerjaan konstruksi pembangkit. Selain itu, memberikan gambaran keekonomian yang komprehensif mengenai revenue yang didapat lebih cepat, dan biaya investasi yang lebih rendah sehingga dapat menjadikan suatu proyek pembangkit panas bumi lebih feasible dan meminimalisasi hambatan pengambangan panas bumi terkait dengan nilai investasi. Analisis dalam penelitian ini difokuskan pada penjadwalan siklus proyek dan analisis keekonomian dariĀ total biaya investasi dari masing-masing teknologi dan tingkat pengembalian finansial yang dicapai. Dalam menentukan teknologi mana yang lebih baik digunakan analisis keekonomian menggunakan parameter Net Present Value (NPV), Internal Rate of Return (IRR) dan Payback Periode (PBP). Setelah dilakukan analisis cashflow didapatkan perbandingan nilai IRR, NPV dan Payback Periode untuk wellhead generating unit; IRR sebesar 11,66%, NPV sebesar US$ 8.271.825 dan PBP selama 15 tahun, sedangkan untuk pembangkit teknologi konvensional; IRR sebesar 19,8%, NPV sebesar US$ 34.553.087 dan PBP selama 9 tahun.
Copyrights © 2019