Mediator
Vol 4, No 2 (2003)

Salam

MediaTor, Dewan Redaksi (Unknown)



Article Info

Publish Date
31 Dec 2003

Abstract

Dari Politik, Media, sampai Lain-Lain Indonesia termasuk ke dalam golongan yang dicurigai menyimpim potensi "born" politik internasional. Berbagai peristiwa teror, macam Born Bali, meledakan sumbu konflik yang terpendam sejak lama. Berbagai tokoh politik Islam Indonesia dianggap tersangkut dengan ledakan 11 September 2001 di Amerika. Abu Bakar Baasyir ialah contohnya. Adakah seperti itu? Adakah Indonesia memang mengandung magma teror seperti itu? Adakah keislaman Indonesia punya daya robek politik seperti itu? Berbagai pertanyaan ini merupakan pertanyaan antara terhadap domain konflik intemasional yang menyangkut Indonesia. Apakah itu terkait dengan representasi keislaman di Indonesia? Di fase reformasi kini, Indonesia dikenal merepresentasikan nilai-nilai ideologis Islam yang kuat. Tapi, apa benar? Teun A. van Dijk, dalam "Discourse, Ideology and Context", menjelaskan tentang ideologi. "Ideologies are also at play when language users engage in the ongoing construction of context as subjective, as well as group-sensitive, interpretations of the social situation," tulisnya. Ia memokuskan telaahannya pada penjadian ideologi yang dibangun melalui kognisi sosial dari representasi kelompok-kelompok sosial. Ideologi menjadi sebentuk social beliefs, dengan mengambil jargon social psychology and political science, dengan strukturisasi pertanyaan-pertanyaan tujuan pengelompokan seperti: (I) Menzbership devices (gender, etnicity, appearance, origin, etc.): Who are we? (2) Actions: What do we do? (3) Aims: Whydo we do this? (4) Norms and Values: What is good or bad? (5) Position: What is our position in society, and how we relate to other groups? (6) Resources: What is ours? What do we want to have/keep at all costs? Sebuah ideologi dipenuhi oleh unsur-unsur knowledge dan attitudes, yang terbentuk mental model (merepresentasikan episodic memory dan people experiences). Dari sanalah, Dijk menegaskan bahwa ideologi tidak selalu merupakan hal yang negatif, bukan selalu sepersis false consciousness". Ideologi mencerminkan konteks dari mental representations, yang bersifat dynamic structures di dalam pengelompokan, tapi sekaligus juga sebagai pengontrol dari model-model konteks pengelompokan, seperti liberal atau konservatif, feminis atau anti-feminis, atau Islam dan nonislam. Rembesan ideologi merniliki banyak representasi di dalam pengelompokan yang bersifat kebangsaan. Dalam kasus Indonesia, hal itu terjadi dengan pemunculan pelbagai permasalahan yang menempel dan menyeruak di berbagai kasus yang terjadi akhir-akhir ini. Tentu saja, tidak semata berbagai konflik dan letupan kekerasan yang tejadi di Indonesia akhir-akhir ini dikarenakan persoalan ideologis. Akan tetapi, berbagai hal laten, dan berpotensi konflik, turut menyertai berbagai persoalan keindonesiaan kita. Deddy Mulyana, dalam "Bridging Islam and the West: Toward the Development of Intercultural Understanding", menjelaskannya dari sisi keislaman dan kultural di Indonesia. Banyak faktor mendorong ketidakselarasan hubungan Indonesia, termasuk kalangan Islamnya, dengan bangsa-bangsa Barat. Dan faktor-faktor itu, di antaranya, dibangun oleh ketidakharmonisan antarkelompok (etnik, ras, agama) di dalam perhubungan kebangsaan. Berbagai konflik antarkelompok, di beberapa tahun terakhir, misalnya, merupakan problem nasional yang mesti diselesaikan. Semua itu, kemudian, mengakumulasi pada persoalan struktural (seperti,jurang sosial kaya-miskin) dan kultural (seperti, antarsuku). Dari sanalah, antara lain, dalam perhubungan dengan Barat, Indonesia memiliki rasa rendah diri dan pengagungan kepada Barat. Maka itulah, dibutuhkan upaya merumuskan kembali identitas nasional dan budaya keindonesiaan berdasar nilai-nilai positif sejarah, budaya (termasuk nilai-nilai agama universal), serta dari sumber budaya mana pun sejauh aspek-aspek budaya tersebut meningkatkan martabat manusia Indonesia. Selain itu, usaha mereorientasi pendidikan nasional melalui pendidikan multibudaya di segala tingkatan serta melalui media massa, disertai usaha untuk mengatasi kendala struktural yang ada. Berangkat dari sana, bisa ditelusuri, antara lain, pemunculan tudingan Barat terhadap gerakan fundamentalisme keagamaan yang berdimensi teror. Fundamentalisme itu, seperti juga yang dimiliki kaum fundamentalisme Kristen di negeri-negeri Barat, membawakan penyelesaian problem nasional keindonesiaan dengan gerakan-gerakan yang radikal- walaupun belum tentu terorisme. Bagi Tim Behrend, dalam "Reading the Myth: Public Teachings ofAbu Bakar Baasyir", Baasyir hanyalah seorang penganut Islam yang taat dan disiplin. Kedua unsur itu memola kiprah penganut dan pengajar keagamaan yang absolut dan simplistis. Model begini tak ubahnya dengan kaum Kristen fundamentalis, yang menyimpan gelegak radikal di dalam logika nalar dan gerak keagamaannya. Dan, tentu saja, sangat rentan bila berhadapan dengan sistem politik yang ingin merengkuh segala jurusan kepentingan. Bukan hanya di wilayah domestik keindonesiaan, penokohan macam itu juga bertabrakan dengan skematik politik western. Dunia western memang tidak lagi diisi dengan kisah-kisah para koboi dan para sherief Dunia western kini sudah berteknologi high tech dengan menyisakan peran-peran sherief internasional ke berbagai belahan dunia yang terpuruk - dan tersungku masalah sosial-ekonomi, macam Indonesia. Dunia western kini telah memakai media massa sebagai cermin mematut para marusia di belantara nilai baik dan buruk. Dan, cermin itu begitu kuat mengungkung peradaban. Mah.. ketika peradaban internasional kini dicengkram oleh warisan post-kolonial, terjadilah pengerangkaan "otak kotak politik dengan banyak dimensi. Dimensi Islam, di antaranya, kembali jadi cermin dunia western mengolah peradaban. Bashy Quraishy, dalam "Islam in the Western Media", mengungkapkan hal itu. Ledakan gedung World Trade Center, AS, memicu wajah buruk Islam di cerminan media western. Dirautlah sebutan terorisme, fundamentalisme, vandalisme, dan lainnya. Dimunculkan realitas-berita demonstran, Quran dan pedang, dan lainnya. Quraishy memotret hal itu cukup intens. Kapitalisme media memang telah menggeser arah visi media sebagai hanya pengungkap kebenaran. Kebenaran "bisnis" media dipenuhi tujuan meraup laba. Para pemilik media menuntut pengelola media menggerakkan pendulum bisnis. Berbagai potensi dasar individu, macam kesenangan pada hiburan, digenjot ke titik-titik nadir. Kehadiran infotainment begitu meruyak. Masyarakat disedot dengan kepuasan hal-hal yang leisure. Dari sanalah, Septiawan Santana K., dalam "Melihat Bias Kapital Media: Asumsi Aksiologis dan Ontologis Sederhana", menunjukkan seringkalinya media mengalami bias: bias kapital, bias kekuasaan, bias kepentingan wartawan sendiri, dan bias-bias lainnya. Pengemasan iklan itu seakan untuk mengelabui pembaca. Hal ini menunjukkan, orientasi media makin lama makin bergeser ke pasar. Kini, paradigma ekonomi menjadi salah satu penentu yang mempengaruhi pertumbuhan jurnalisme, selain nilai-nilai responsibilitas sosial dan pelayanan publik dari demokrasi liberal. Padahal, idealnya media massa menjadi pilar demokrasi, juga mencerahkan dan memberdayakan warga negara. Tapi, dunia iklan bukan hanya milik bisnis media. Dunia politik pun memakainya. Zulfebriges, dalam "Political Advertising: Strategi Partai Politik dalam Pemilu", memaparkan perkembangan periklanan politik, terutama di negara demokrasi, yang mengalami kemajuan yang sangat pesat sejak kemunculannya pada awal tahun 1950 di AS. Efektivitasnya membuat kandidat dan partai politik yang bertarung tidak ragu mengeluarkan biaya jutaan dolar untuk mengungguli lawan politiknya. Berbeda dengan periklanan komersial, periklanan politik sering menyampaikan pesan-pesan politik yang bersifat negatif, mendiskreditkan lawan politik, sebagai cara mudah merebut suara pemilih. Dunia politik pun dipakai media massa untuk membantu penguatan strategi politik partai. Neni Yulianita, dalam "Media Massa: Strategi Partai Politik dalam Menghadapi Pemilu 2004", menunjukkan bagaimana keberhasilan pemilu tidak hanya tergantung pada peran komunikator politik. Media massa kerapkali memainkan peran di dalamnya. Pentingnya aktivitas kampanye melalui media massa telah menyadarkan partai politik peserta pemilu untuk merencanakan dan merancang strategi kampanye yang tepat. Bila ditangani secara serius, akan banyak pengaruhnya terhadap perolehan suaranya dalam pemilu. Politik memang memerlukan upaya komunikasi yang intens. Komunikasi politik adalah salah satu kuncinya. Reza NasruHah, dalam "Komunikasi Politik: Kasus di Jawa Barat", memaparkan bagaimana seluk-beluk praksis komunikasi politik diejawantahkan. Praksis politik mensyaratkan adanya pemahaman mengenai sejumlah konsep kunci komunikasi politik. Bagaimanapun hebatnya interaksi politik yang dilakukan, tujuan akan sulit tercapai jika tidak dikomunikasikan dengan baik. Pada titik inilah penting sekali pemahaman mengenai konsep-konsep kunci komunikasi politik, di antaranya menyangkut makna input/output bagi sistem politik, kontrol, feedback, dan sistem proses. Studi kasus mengenai sistem komunikasi politik di Jawa Barat menunjukkan bahwa kinerja partai masih jauh dari harapan rakyat selaku konstituen pemilihnya. Kemungkinan besar, ini disebabkan karena macetnya sistem komunikasi politik dan kegagalan partai memanfaatkan saluran kQmunikasi untuk merangkul massanya. Isi MediaTor kali ini juga mengetengahkan berbagai kajian di sekitar komunikasi lainnya.  Askurifai, dalam "Kebudayaan Audio Visual: Telaah terhadap Nilai-Nilai Berita Televisi", menjelaskan tentang budaya audiovisual memunculkan tantangan baru bagi konsumsi dan produksi media massa. Sebelumnya, berita disampaikan dan dicema lewat budaya tulis yang dibawa oleh media cetak. Kini, dengan maraknya televisi, berita ditransfer kepada khalayak dan dikonsumsi melalui budaya audiovisual. Pengamat kebudayaan Neil Postman dan Jerry Mander menilai, bahasa tertulis menghadirkan pengertian yang teratur dan dapat dipercaya. Sementara, konsepsi-konsepsi tentang dunia yang ditawarkan televisi cenderung kacau balau dan tidak masuk akal, dan karenanya berbahaya bagi masyarakat. Ini dibantah oleh pengamat lain. Mengutip Edmund G. Brown, Arswendo Atmowiloto justru mencermati, kehadiran televisi memberi kesempatan bagi semua - satu kelebihan yang tidak bisa ditandingi oleh budaya tulis yang bersifat elitis akibat faktor literacy yang menyertainya. Bagi para praktisi media dan teoretisi komunikasi sendiri, yang paling penting adalah mencermati karakteristik masing-masing medium informasi dan komunikasi massa, serta menyiasati karakteristik tersebut untuk mengoptimalkan fungsinya di tengah masyarakat. Berita televisi memang bisa saja sungguh-sungguh, dan serius. Tapi bisajuga membodohi masyarakat, berpura-pura, dan terbuka untuk dimanipulasi. Di sinilah letak urgensi moralitas-kehadiran moralitas mutlak diperlukan dalam produksi dan sajian berita televisi sehingga khalayak mendapatkan aspek terbaik dari budaya audiovisual. Ike Junita Triwardhani, dalam "Televisi sebagai Media Quantum Learning bagi Anak", menyatakan bahwa televisi, di samping mengundang gugatan karena sejumlah efek negatifnya, juga memiliki banyak sisi positif, antara lain, sebagai media belajar bagi anak.  Melalui metode Quantum Learning, suatu tayangan acara televisi diberi makna sebagai substansi pendidikan yang menyenangkan, metode pengajaran partisipatif, serta suasana Jingkungan yang membuat anak merasa nyaman. Dalam hal ini, " kehadiran orang tua sebagai mitra dialog bagi anak, untuk memberikan makna yang mudah dicerap mengenai suatu acara televisi, sangat diperlukan. Belajar dalam suasana menyenangkan, sebagai prinsip penting dalam metode Quantum Learning, akan memberikan hasil yang lebih optimal. Metode ini berangkat dari keyakinan bahwa manusia temyata memiliki kemampuan luar biasa untuk meloncat di atas kemampuan yang diperkirakan. Ririn Gunawan, dalam "Pengaruh Komunikasi Pemasaran Terpadu terhadap Perilaku Konsumer", mengemukakan komunikasi pemasaran terpadu merupakan salah satu bagian integral dan vital dari kegiatan pemasaran. Ia memainkan peranan penting dalam pertukaranjaringan. Pada tingkat yang dasar, komunikasi pemasaran terpadu dapat menginformasikan dan membuat kesadaran pengguna yang potensial. Komunikasi berusaha mempengaruhi secara langsung kepada konsumer yang potensial sehingga menyebabkan mereka senang melakukan pertukaran hubungan secara loyal. Di dalam komunikasi pemasaran terpadu, terdapat beberapa faktor yang perlu diperhatikan: faktor persepsi, bauran pemasaran, positioning, dan faktor lingkungan. Selain itu, juga terdapat beberapa premis yang perlu diperhatikan dalam usaha mempengaruhi perilaku konsumer, yakni: konsumer adalah yang berkuasa, motivasi konsumer dan perilakunya dapat dimengcrti melalui penelitian, perilaku konsumer dapat dipengaruhi lewat kegiatan persuasif, dan pcrsllasi tcrhadap konsumer akan bermanfaat sepanjang pengaruhnya layak, legal, dan bermoral. Agung M.S.G., dalam "Mengintip Komunikasi Pemasaran di Matahari Supermarket", menjelaskan bagaimana persaingan yang kian tajam di dunia pemasaran menuntut mental yang kreatif dan inovatif agar dapat mengetahui kebutuhan masyarakat yang kian cerdas dalam menentukan pilihan terhadap suatu produk. Akan tetapi, sebelum menyiasati strategi pemasaran, harus terlebih dahulu meninjauUlang paradigma marketing dan pemasarnya itu sendiri agar selalu terbarukan seiring dengan Perkembangan target pasar. Strategi pemasaran dalam membidik pasar tersebut dilakukan dengan lintas visi, pemanfaatan database, serta memahami marketing plan yang meliputi marketing objective, COlllllll/lzicatioll objective, dan communication strategy. Kiki Zakiah, dalam "Pcngaruh Jaringan Komunikasi Organisasi terhadap Pencapaian Tujuan Badan Komunikasi Wanita Islam", mengemukakan penelitian mengenai kegiatanjaringan komunikasi organisasi yang dilakukan pada Badan Kerjasama Wan ita Islam (BKSWI) Jawa Barat. Penelitiannya menunjukkan hasil efektfinyajalur komunikasi horisontal dan komunikasi informal, dan ketidakefektifan komunikasi vertikal dalam mencapai tujuan organisasi. Abdul Firman Ashaf, dalam "Tema-Tema Dominan dalam Musik Populer Indonesia", menggambarkan tema-tema yang cenderung muncul dalam lirik lagu populer Indonesia. Ia menemukan dominasi tema personal dan cinta, ketimbang tema-tema sosial. Selain itu, hasil penelitian ini juga menunjukkan ckspektasi-ekspektasi realliberalisasi sikap yang menuju hubungan intim laki-Iaki dan perempuan. Antar Venus, dalam "Nonverbal Expectancy Violation Theory: Esensi dan Perkembangannya", mengupas bahwa setiap orang memiliki harapan tertentu pada perilaku nonverbal orang lain. Jika harapan tersebut dilanggar, maka orang akan bereaksi dengan memberikan penilaian positif atau negatif sesuai karakteristik pelaku pelanggaran tersebut. Bila kita menyukai orang tersebut maka besar kemungkinan kita akan menerima pelanggaran tersebut sebagai ~~suatu yang wajar dan menilainya secara positif. Sebaliknya, bila sumber pelanggaran dipersepsi tidak menarik atau kita tidak menyukainya maka kita akan menilai pelanggaran tersebut sebagai sesuatu yang negatif. Rochajat Harun, dalam "Concept and Methodology of Peoples Participation in Agricultural Extension", menguraikan bagaimana penyuluhan pertanian memiliki dimensi-dimensi desentralisasi kcwenangan pelaksanaan dari pusat ke daerah, pergeseran pendekatan dari orientasi komoditas ke orientasi agribisnis yang terintegrasi. Semua itu membantu para petani untuk menolong dirinya sendiri dalam upaya mengatasi berbagai persoalan. Untuk keberhasilan suatu program dalam penyuluhan, diperlukan adanya partisipasi. Partisipasi yang sejati adalah melibatkan masyarakat petani dari perencanaan hingga pengambilan keputusan. Demikianlah MediaTor kali ini menjumpai Anda, sidang pembaca. Septiawan Santana K.

Copyrights © 2003