Seorang Periset yang Baik Mesti Memiliki Sikap EntengSAUL Pett, penulis Associated Press Newsfeature, meraih a feature-writing Pulitzer pada 1983 karena kerja riset-feature-nya tentang federal bureaucracy Amerika yang amat serius. Tulisan featurenya menghabiskan 10.000 kata, berisi fakta-fakta dan bagian-bagian pengisahan yang strukturnya disusun dengan apik, tertib, dan menarik. Pett, menurut Friedlander & Lee, Feature Writing for Newspapers and Magazines (1988:108-109), adalah layaknya penulis feature koran yang tidak diganduli waktu deadlines. Walau begitu, Pett tetap merasa dibayang-bayangi tuntutan redakturnya untuk cepat-cepat menyelesaikan laporan-laporan feature-nya.Gagasan laporan feature-nya, “The Bureaucracy: How Did It Get So Big”, datang dari Jack Cappon, redaktur Pett’s. Pett mula-nya tidak begitu suka dengan gagasan ini, dan menolak penugasan ini. Tugas ini amat merepotkannya, sebab ia harus melakukan riset yang cukup alot. Pett merasa ini bukan tugas yang mudah. Ia agak kehilangan akal untuk meraut sesuatu yang besar dan bercerai-berai macam birokrasi pemerintahan. Tapi, redakturnya ngotot. Akhirnya, Pett menyerah. Ia sepakat, walau tak tahu apa yang mesti dikerjakan. Di soal birokrasi banyak bagian yang mesti digambarkannya. Banyak orang tersangkut dengannya. “Saya mengawalinya dengan apa yang dibutuhkan dari tugas penulisan macam ini: membuat kerangka,” jelas Pett. Ia bergerak. Ia beranjak kesana-kemari, mencari segala sesuatu dengan mendalam, mencari kedalaman soal sampai sedalam-dalamnya. “Ini adalah sebuah kasus yang benar-benar dicari dengan meraba-raba,” jelasnya.Untuk itu, ia memulainya dengan membuat berbagai pertanyaan. Bagaimana sebuah pemerintahan yang besar menjadi besar di hadapan kita? Apa ada kaitannya dengan unsur-unsur seperti tuntutan sejarah yang hendak menceritakan sebuah kekuatan politik yang tumbuh membesar? Bagaimana proses menjadi besar-nya? Bagaimana perangkat-perangkat yang menyertainya? Bagaimana kok bisa menggelikan seperti itu? Apakah yang menjadi gangguan dari kasus ini? Kemana harus mencari perbandingannya?Dari sanalah, Pett lebih jauh lagi masuk ke dalam riset. “Saya bertanya kepada banyak orang, dan membaca. Bertanya kepada orang menjadi penting bagi saya, karena dari merekalah kemudian saya diarahkan untuk membaca berbagai bahan. Itulah sebenarnya yang saya kerjakan.”Ia gelisah bila tidak menemukan buku yang diperlukannya. Ia tidak menemukan majalah yang melaporkan segala sesuatu mengenai birokrasi. Ia bisa saja menemukan berbagai bahan atau bagianbagian tertentu dari sebuah buku, tapi tidak pernah tuntas menjelaskan apa yang hendak dilaporkannya. Tidak ada orang yang pernah melaporkan soal birokrasi ini secara menyeluruh. Tapi, dari sanalah, kemudian ia mulai merasakan: Ia berkemungkinan menjadi orang yang pertama menjelaskan persoalan birokrasi secara komprhensif. Dari sanalah, ia tahu jawaban dari ketidakpuasannya mencari bahan, data, dan fakta di berbagai literatur. Riset untuk laporan feature-nya ini memakan waktu dan tenaga yang cukup melelahkan, sebelum Pett mendapat penghargaan sebagai penulis berita-feature yang begitu lengkap, mendalam, dan menarik minat, serta kuat dalam memaparkan duduk-soal birokrasi tumbuh tambun. Kisah Pett ini mengindikasikan pekerjaan riset yang dilakukan wartawan. LEWAT buku Metodologi Penelitian Kualitatif: Paradigma Baru Ilmu Komunikasi Dan Ilmu Sosial Lainnya (2002), Deddy Mulyana menguraikan bagaimana meneliti perhubungan orang-perorang, atau kelompok, ketika berkomunikasi. Buku yang ditulisnya itu ialah hasil oleh-olehnya dari perjalanan Fulbright Senior Research Program (2001) di Northern Illinois University, AS. Pendekatan kualitatif yang ditulisnya membuka pentingnya kualitas manusia diteliti (ketika berkomunikasi) tidak hanya dengan angka statistik. Bagi Mulyana, kualitas komunikasi manusia itu memiliki dimensi yang amat ragam. Realitas komunikasi yang dilakukan manusia itu bersifat ganda, rumit, semu, dinamis (mudah berubah), dan selalu relatif “kebenarannya”. Setiap orang yang berkomunikasi itu bersifat aktif, kreatif, dan bebas. Dari dua pihak yang tengah berkomunikasi, akan selalu terjadi interaksi yang saling mempengaruhi. Tidak bisa dinilai, si A mendahului omong dan si B menjawabnya. Ketika si Amengucapkan “selamat pagi”, ia bisa jadi dipengaruhi oleh niat tertentu. Si A berniat, misalnya, jadi pihak yang terbuka untuk diajak berkomunikasi dari sejak malam hari. Ucapan “selamat pagi”-nya kepada si B, diinginkannya menjadi pembuka hubungan positif.Dengan demikian, di dalam peristiwa komunikasi antar-manusia, tidak bisa dinubuat “sebab” akan memunculkan “akibat”. Karena, prosesnya saling merangkai: si “sebab” kemudian bisa jadi “akibat”, dan sebaliknya.Untuk itulah, orang yang tengah mengerjakan riset kualitatif, di bidang komunikasi, harus mau mengamati subyek penelitiannya secara setaraf, penuh empati, akrab, interaktif, timbal balik, saling mempengaruhi, dan tidak hanya satu dua-kali pertemuan (tetapi berjangka waktu cukup lama). Sebab, di sini terkait observasi pada hal-hal yang tak terucapkan, nilai historis, melihat perbedaan antarindividu, sampai membuat penilaian etis atau estetis pada fenomena (komunikasi) yang spesifik. Praktek riset macam itu kini mulai pula digunakan jurnalisme. Namun, tampaknya, bagi media yang hendak membuat laporan berita, tidaklah perlu se-rigid, sekaku, sepersis peneliti akademis. Riset penulis berita depth reporting, atau investigatif, atau feature yang panjang, mungkin tidak mesti melakukan gerakan taat asas dalam menggunakan rincian metode, teknik, prosedur, dan langkah-langkah penelitian akademis. Waktu dan dana riset yang dibutuhkan bisa jadi akan cukup merepotkan bila dipraktekkan sebuah media. Laporan jurnalisme dibatasi waktu deadline tertentu. Fakta-fakta yang mesti disampaikan media tidaklah harus se-persis kerangka data-data ilmiah dengan perhitungan sampel, kuesioner, kuantifikasi data, uji statistik, dan sebagainya.Metoda dan teknik riset dari dunia akademis dipungut media sebagai alat bantu pencarian fakta. Selain itu, bisa juga dipakai sebagai alat pertanggungjawaban media: bahwa berbagai fakta yang dilaporkannya didapat melalui cara kerja yang bisa dipertanggungjawabkan. Metode riset faktanya, misalnya, didapat berdasarkan wawancara, observasi partisipatif, analisis dokumen, studi kasus, studi historis-kritis, atau langkah-langkah lainnya.MediaTor kali ini mengungkapkan berbagai dimensi metodologi penelitian. Berbagai penulis menguraikan pemikirannya. Selain itu, beberapa penulis melaporkan hasil-hasil penelitiannya. Kedua dimensi ini diharapkan memberi masukan kepada Anda, Pembaca.RedaksiSeptiawan Santana K.
Copyrights © 2004