Mediator
Vol 8, No 1 (2007): Berkomunikasi dengan Anak

Salam

MediaTor, Dewan Redaksi (Unknown)



Article Info

Publish Date
01 Jul 2007

Abstract

Berkomunikasi dengan AnakBanyak masalah anak sekolah berkisar pada kemampuan berprestasi. Setelah anak menerima rapor semester, maka orang tua kerap dikagetkan oleh angka-angka rapor yang menunjukkan angka lima atau kurang. Seringkali mereka menanyakan guru atau wali kelas mengapa anaknya memeroleh nilai-nilai yang mengecewakan itu. Boleh jadi, orang tua kemudian segera berkunjung ke psikolog atau biro konsultasi psikologi dengan tujuan mentes anak untuk mengetahui IQ anak tersebut. Sebenarnya, orang tua tidak perlu kelewat panik, karena dapat meneliti dulu faktor-faktor manakah yang mungkin telah menyebabkan rendahnya prestasi anak. Misalnya, dengan cara mengidentifikasi faktor-faktor: (1) apakah anak sudah cukup berusaha dan belajar dengan teratur; (2) apakah anak sungguh-sungguh belajar atau banyak melamun dan berkhayal; (3) apakah anak ketat dalam disiplin belajar 4) apakah anak sudah mengerti bahan yang harus dipelajari; (5) bagaimanakah sikap anak di dalam kelas sewaktu mengikuti pelajaran.Pada dasarnya, membantu menyelesaikan kesulitan dalam hal belajar biasanya memerlukan data yang lebih luas mengenai prestasi anak di sekolah. Misalnya, mata pelajaran manakah yang sulit dipelajari oleh anak. Apakah kesulitan belajar disebabkan oleh keadaan lingkungan ataukah kesulitan berprestasi di sekolah disebabkan oleh faktor-faktor dalam diri anak itu sendiri. Jurnal Komunikasi Mediator edisi kali ini mencoba mengangkat persoalan dunia anak lewat beberapa tulisan.Selain artikel Pien Supinah Adiwira yang membincangkan ihwal “Komunikasi Reseptif dalam Meningkatkan Prestasi Belajar Anak”, termuat juga kajian analisis isi tentang “Bahasa Rupa Wimba dalam Komik ‘Flap Book’ Anak-anak” yang ditulis Ferry Darmawan.Sementara itu, Alex Sobur sembari membincang “Harry Potter” mengajak kita untuk membaca mitos-mitos yang ada di seputar cerita fiksi karya J.K. Rowling tersebut. Artikel lainnya, sebagaimana ditulis Rita Gani, menuntun kita untuk menonton, tepatnya “meraba,” pornografi di ruang-ruang kelas. Berkomunikasi dengan anak, membawa kita, para orang tua, ke dunia tanpa batas. Di dunia tersebut bertebaran ruang-ruang tempat tumbuh kembangnya imajinasi anak. Karena itu, “Merancang Media Hiburan Buku Cergam,” menurut Ida Nurhaida dan kawan-kawan, “Menjadi Media Belajar untuk Alat Bantu Komunikasi”.Di dunia remaja dan dewasa, Rini Rinawati menawarkan sebuah gaya hidup, “Lifestyle” Muslimah. Lantas Karim Suryadi melengkapinya dengan artikel “Media Massa dan ‘Political Literacy’: Pemanfaatan Berita Politik di Kalangan Remaja Kota Bandung”. H.A. Saefudin dan Antar Venus membedahnya lewat “Cultivation Theory”. Dadi Ahmadi dan Nova Yohana menggunakan teori yang sama untuk menganalisis “Kekerasan di Televisi”. Oji Kurniadi pun mencoba mengamati fenomena kaum “Perempuan dalam Tayangan Iklan di Televisi”.Pada bagian lain, Airin Nisa, Ken Reciana, dan Billy K. Sarwono A., mengangkat persoalan media massa dalam artikelnya, “Youth Lifestyle in A Moslem Magazine: A Reception Analysis on ‘Muslimah’ Readers”. Mella Ismelina Farma Rahayu menyoroti masalah kebebasan pers dari perpektif hukum. Judul artikelnya, “Kebebasan Pers dalam Konteks KUHP Pidana: Menyoal Undang-Undang sebagai Fungsi Komunikasi”.Secara keseluruhan, isi Mediator kali ini memang tampak lebih bervariasi. Kami, di jajaran penyunting, menyebutnya perlintasan berbagai gagasan tanpa batas, sekadar untuk menunjukkan betapa luasnya kajian komunikasi. Mulai dari komunikasi intrapersonal—misal menafsirkan gejala melamun dan berpikir, sampai persoalan komunikasi internasional dan budaya komunikasi global. Maka itu, selain menyuguhkan isu-isu lainnya macam “Polemik Rancangan Undang-Undang Anti Pornografi dan Pornoaksi (RUU-APP)” yang ditulis Dedeh Fardiah, kami juga mengundang Yusuf Hamdan untuk berdiskusi soal “Kepribadian Negosiator”. Tiga tulisan lain kami munculkan sebagai penutup, Dede Lilis Ch. Subandy, masih menyinggung soal dunia anak. Ia coba mengungkap “Sosialisasi Anak dalam Majalah ‘Bobo’.” Anne Ratnasari memublikasikan hasil penelitiannya beberapa waktu lalu, berkenaan dengan “Pengaruh Komunikasi Antarpribadi Bermedia Internet terhadap Persahabatan Mahasiswa di Dunia Maya”. Terakhir, Ratih T. menuliskan “’Call Center’ sebagai Alat Komunikasi Pemasaran di Abad ke-21". Tanpa perlu berpanjang kata, akhirnya, kami sekadar ingin menyapa Salam, sekaligus mengantarkan Anda untuk menjelajahi, menafsirkan, dan memberi makna terhadap berbagai hasil penelitian dan pemikiran konseptual yang coba kami hadirkan dalam Mediator nomor ini. Moga saja ada manfaat yang bisa dipetik.Penyunting,

Copyrights © 2007