Hadis yang mencakup perkataan, perbuatan, taqrīr, hal ihwal serta sifat-sifat Nabi Muhammad saw., merupakan sumber kedua ajaran Islam setelah al-Qur’an. Hanya saja, untuk meyakini apakah sesuatu yang dinyatakan bersumber dari Nabi itu dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya, perlu adanya upaya penelitian dan pengkajian baik menyangkut kuantitas (jumlah) orang yang terlibat dalam periwayatannya berikut kualitas orang perorang yang terlibat dalam proses transformasi maupun terkait keabsahan isi atau materi beritanya itu sendiri agar seseorang tidak salah dalam memberikan penilaian dan menentukan sikap. Dan untuk melakukan pengkajian terkait kualitas suatu hadis, pengetahuan terkait kriteria maupun syarat-syarat suatu hadis yang layak diterima atau bahkan ditolak untuk selanjutnya diamalkan merupakan suatu keharusan. Hadis ḍa’īf sebagai salah satu jenis hadis dilihat dari segi kualitasnya menempati tingkat terendah setelah hadis sahih dan hasan dan sebab-sebab ke-ḍa’īf-an dan macam-macamnya serta bagaimana ke-ḥujjah-annya menjadi bahan diskusi dan pembahasan menarik di kalangan ulama ahli hadis antara yang menerima secara mutlak, menolak secara mutlak atau menerima dengan syarat-syarat tertentu, terutama jika dihubungkan dengan faḍā’il al-‘amal atau keutamaan beramal.
Copyrights © 2017