Di Indonesia, nasi merupakan hidangan utama dalam penyajian makanan, sehingga dengan bertambahnya populasi tentunya kebutuhan beraspun semakin meningkat. Untuk dapat menyeimbangkan persediaan dan permintaan beras di Indonesia, pemerintah menunjuk Perum Bulog sebagai pengelola persediaan beras, salah satunya berada di Jawa Barat sebagai salah satu produsen beras di Indonesia. Beberapa bulan di tahun 2011 sampai 2015 Perum Bulog Divisi Regional Jawa Barat mengalami kekurangan persediaan beras sehingga dibutuhkan pengadaan beras menggunakan national movement, dimana beras dipindahkan dari regional lain. Instabilitas persediaan beras ini terjadi karena beberapa faktor, terutama adalah faktor iklik. Ini alasan mengapa diperlukan pengelolaan persediaan beras, untuk mendapatkan jumlah persediaan beras yang spesifik tiap bulannya. Alasan inilah yang melatarbelakangi penelitian mengenai analisis perencanaan dan pengendalian persediaan di Perum Bulog Divisi Regional Jawa Barat. Penelitian dilakukan dengan menggunakan Economic Order Quantity (EOQ) dengan pendekatan menggunakan Period Order Quantity (POQ) dan hasil yang didapatkan yaitu pada tahun 2016 Perum Bulog harus memesan beras sebanyak 596.677.538,92 KG dengan frekuensi pemesanan sebanyak 71 kali, pemesanan setiap lima hari untuk bulan Januari dan enam hari untuk bulan Februari sampai Desember. Safety stock yang harus dimiliki Perum Bulog sebesar 79.434.675,36 sampai 173.200.441,02 KG, dengan batas bawah sebesar 84.145.772,96 KG dan batas atas sebesar 180.156.952,97 KG. Biaya pengadaan beras sebesar dengan Rp. 4.659.583.712.750,62, dengan anggaran sebesar Rp. 4.681.702.174.406,47, maka penghematannya adalah sebesar Rp. 22.118.461.655,86.
Copyrights © 2017