Resital: Jurnal Seni Pertunjukan (Journal of Performing Arts)
Vol 12, No 1 (2011): Juni 2011

Musik Keroncong Campur Sari dalam Pluralitas Budaya Masyarakat Sawahlunto

Yon Hendry (Jurusan Musik, ISI Padang Panjang. Jalan Bunda Kanduang No. 35 Padang Panjang- 27128. HP: 0812 676 8409)



Article Info

Publish Date
02 Jun 2011

Abstract

Artikel ini membahas fenomena musik keroncong campur sari yang berkembang di daerah Sawahlunto. Untukmemahami fenomena ini digunakan studi kasus pada Orkes Keroncong Campur Sari Irama Masa Sawahlunto.Berdasarkan penelitian disimpulkan bahwa musik Keroncong Campur Sari yang hidup di dalam masyarakatSawahlunto sangat berbeda dengan yang hidup di Jawa. Alat musik yang digunakan mengakomodasi alat musikdari berbagai etnis yang hampir mewakili semua etnis masyarakat yang hidup di Sawahlunto. Kondisi demikianpula yang menjadi alasan bahwa kesenian tersebut tidak bernama Campur Sari seperti di Jawa. Meskipun masihmenggunakan istilah campur sari, tetapi pola permainan musiknya dan repertoar lagunya pun merupakanpercampuran dari berbagai tradisi masyarakat yang hidup di dalamnya. Dengan demikian jelas bahwa pluralismemasyarakat Sawahlunto di sini terrefl eksikan pada pluralisme alat musik dan permainan orkesnya.Kata kunci: keroncong, campursari, musik tradisi.ABSTRACT Keroncong Campur Sari Music in Pluralism Sawahlunto People. This article mainly discusses about thekeroncong music phenomenon, campur sari, that has been developed well in Sawahlunto. In order to understand thisphenomenon, a case study was used for the research in campur sari keroncong orchestra “Irama Masa” Sawahlunto.Based on the research, it can be concluded that there is a signifi cant difference between the keroncong music campursari in Sawahlunto and in Java. The music instruments used for campur sari are those which accommodate some musicinstruments from the ethnic groups live in Sawahlunto. Based on this characteristic, therefore, the name of this keroncongmusic is not similar to the music that is well known in Java, Campur Sari. Although the name of campur sari is stillbeing used, but basically, the pattern in performing the music and its repertory are based on the mixing of many culturalaspects of people living there. Therefore, the pluralism of people in Sawahlunto is refl ected clearly on the pluralism of music instruments and of the orchestra performance.Keywords: keroncong, campur sari, traditional music.

Copyrights © 2011






Journal Info

Abbrev

resital

Publisher

Subject

Arts Humanities

Description

Resital : Jurnal Seni Pertunjukan merupakan jurnal ilmiah berkala yang ditujukan untuk mempublikasikan karya ilmiah hasil penelitian, pengembangan, dan studi pustaka di bidang seni pertunjukan. Jurnal Resital pertama kali terbit bulan Juni 2005 sebagai perubahan nama dari Jurnal IDEA yang terbit ...