Pada saat perusahaan-perusahan multinasional semakin berkembang sistem pengendalian keuangan dan sistem penilaian kinerja manajemen mendapat perhatian yang sangat luas dari paa periset di bidang akuntansi karena sampai saat ini belum diperoleh hasil riset yang konsisten, oleh karena itu, para periset sepakat bahwa aspek budaya yang membentuk perilaku dan sikap individu dalam suatu organisasi harus diperhitungkan.
Dengan menerapkan konsep biudaya dari Hofstede (1980), Harrison (1992, 1993) menyimpulkan dan menggeneralisasi bahwa di negara berdimensi budaya âhigh-power distanceâ dan âlow-individualismâ (diwakili Singapura), penetapan budget keuangan yang ketat merupakan alat yang efektif bagi atasan untuk menilai kinerja manajemen, sebaliknya di negara berdimensi budaya âlow-power distanceâ dan âhigh-individualismâ (diwakili Australia), penetapan budget yang ketat tidak efektif untuk tujuan tersebut. Di samping itu, Harrison menemukan bahwa partisipasi dalam penyusunan budget tidak terlalu berpengaruh terhadap kepuasan kerja (job satisfaction).
Melalui replikasi metode riset yang diterapkan Harrison, hasil riset di Indonesia yang berdimensi budaya sama dengan Singapura (high-power distance dan low-individualism), sistem penilaian yang tidak menekankan pencapaian target/budget justru dapat memperbaiki kinerja manajemen, sedangkan partisipasi dalam penyusunan budget dapat meningkatkan kepuasan kerja para manajer. Dengan demikian hasil riset ini tidak mendukung pendapat Harrison, karena hasil studi di Indonesia memberikan bukti empirik yang baru bahwa penerapan sistem penilaian kinerja yang sama tidak akan efektif diterapkan pada Negara-negara yang berdimensi budaya sama sebagaimana dikemukakan Hofstede. Untuk itu karakteristik budaya Indonesia dalam kaitannya dengan sistem pengendalian keuangan dan kinerja manajemen masih memerlukan penelitian lebih lanjut.
Copyrights © 2001