Tumpeng sebagai ekspresi budaya mengandung banyak makna. Melalui pendekatan psikologi antropologi kita dapat mengungkap makna-makna tersebut. Tentu saja pendekatan ini bukan yang terbaik tetapi paling tidak dapat memberi wawasan baru tentang perilaku manusia dan masyarakat lingkungannya. Dalam tulisan ini tidak begitu banyak mengupas hal tersebut kecuali untuk mengurangi redundansi juga agar tulisan ini lebih terfokus pada hal-hal yang belum banyak dibicarakan oleh para pakar. Ritual tumpengan merupakan tindakan yang dilakukan oleh sekelompok orang atau organisasi sosial tertentu berdasarkan pranata yang berlaku. Ritual tersebut kecuali merupakan realisasi dari sebuah sistem sosial juga merupakan sarana untuk mencapai tujuan dari sistem sosial itu sendiri. Makna ritual tumpengan berbeda bagi tiap orang meskipun keduanya berada dalam komunitas yang sama. Hal tersebut terjadi karena tiap orang mempunyai latar belakang sejarah dan kepribadian yang berbeda. Makna ritual tumpengan tidak bisa ditafsirkan secara seragam hanya dengan mengacu pada satu sistem simbol atau pranata yang berlaku. Bagi orang Jawa membuat tumpeng adalah kebiasaan atau tindakan berdasarkan tradisi. Meskipun demikian tujuan orang membuat tumpeng dapat berbeda-beda sesuai dengan situasi dan kondisi. Pembuatan nasi tumpeng dengan bentuk kerucut atau gunungan bagi orang Jawa dapat dipahami sebagai simbolisasi dari kelamin laki-laki (phallus). Dengan kata lain, tumpeng adalah simbol kejantanan. Kerucut atau gunungan sering diabstraksikan menjadi bentuk segitiga dengan satu ujung di atas sebagai puncak. Ketiga titik dalam segitiga dapat diartikan dua titik pada garis horizontal sebagai posisi ibu dan ayah sedangkan yang di puncak diduduki oleh anak. Jadi gunungan yang berbentuk segitiga tersebut merupakan simbolisasi dari struktur keluarga Jawa. Gunung juga bisa berarti bumi atau ibu pertiwi yaitu tempat kita dilahirkan, dibesarkan dan bahkan setelah mati dikuburkan. Dengan demikian bentuk nasi tumpeng yang parabolik itumerupakan simbolisasi dari perut atau rahim seorang perempuan. Dorongan untuk kembali ke pelukan seorang ibu adalah dorongan bawah sadar yang diperoleh anak sejak masa kecil. Penyaluran terhadap hasrat bawah sadar tersebut bermacam-macam, bisa lewat mimpi, lewat karya seni atau melalui kegiatan lainnya. Dengan kata lain perilaku orang dewasa terhadap tumpeng tidak jauh berbeda dengan perilaku anak-anak. Membuat tumpeng, memotong dan kemudian memakannya merupakan ekspresi bawah sadar dan juga katarsis bagi orang Jawa.Kata kunci: Tumpeng, gunungan, skemata, psikoanalisis, katarsis
Copyrights © 2007