Seni merupakan bagian integral dari bangunan peradaban manusia yang lengkap dengan berbagai komponen yang terkait dengannya. Derap seni senantiasa menunjukkan suatu kinerja pelakunya serta dinamika dari masyarakat pendukungnya. Keberadaannya tentu saja amat berperan dalam membentuk perilaku, etos kerja, bahkan kekuatan untuk merealisasi angan maupun harapan-harapan. Ada alur yang mesti menjembatani semua itu, baik yang bermula dari mengenali dan mengapresiasi untuk selanjutnya memahami pula manfaat yang ditawarkannya. Seni disadari menyandang nilai-nilai yang bermaslahat, manakala kekaryaan mampu menunjukkan implikasi dan refleksi kehidupan dalam bingkai konsep dan bersistem. Pada tema atau fungsi tertentu, di balik wujudnya yang terindera, karya seni menghimpun sekian makna yang dihasilkan lewat cipta-karsa. Ketertiban karya seni hanya dimungkinkan terbentuk melalui kinerja yang berlatar belakang terdidik. Namun hal itu bukanlah jaminan mutlak sepanjang pelaku seni sendiri tidak bersesuai dengan apa yang menjadi rujukannya. Sosok seniman yang kompeten ternyata mampu mengukir perjalanan budaya dengan berbagai wujud hasil cipta karsanya dan berjalan dari waktu ke waktu. Dalam rentang waktu kurang dari setengah abad, kinerja seniman di tengah kancah pembangunan memperlihatkan derap cukup signifikan. Semua itu ditandai pula oleh kiprahnya kaum akademis di dalam mengisi derap budaya yang dipadukan dengan laju perkembangan IPTEK berikut refleksi dinamika sosial. Para lulusan dari sekolah-sekolah seni; dalam skala berbeda mampu melebarkan cakrawala berkesenian dan bahkan membuka lahirnya pembaruan. Walau demikian, pengelolaan institusi seni menyadari benar kelambanannya untuk mengantisipasi derap perubahan. Semua itu sangat bersandar kepada kebijakan, pendanaan, kemudahan, dan dukungan.ÃÂ Kata Kunci: cipta-karsa, kompetensi, dinamika sosial
Copyrights © 2006