Membiarkan anak jalanan sebagai bagian dari komunitas anak rawan yang bekerja, dalam rentang waktu yang cukup panjang di jalanan dengan kondisi lingkungan yang keras, tanpa perlindungan memadai, sesungguhnya adalah melanggar hak-hak dasar anak. Padahal sebenarnya mereka juga perlu bermain, belajar dan harus sekolah. Untuk mengeliminasi dan menangani anak jalanan, bukanlah pekerjaan yang mudah. Pendekatan sosial dan ekonomi saja tidak cukup, tetapi juga perlu memperhatikan persoalan budaya mereka. Perlu mengubah pola pikir, sikap mental dan nilai-nilai yang dianut dalam budaya mereka. Perubahan tersebut salah satunya bisa melalui pembelajaran seni. Kelebihan seni yang unik dan menarik, mempermudah anak jalanan untuk ikut dan bergabung belajar di sanggar Alang-alang. Sanggar Alang-alang telah berhasil menangani anak jalanan dengan pendekatan kesenian. Berbagai jenis seni diajarkan, yakni seni musik, seni tari, seni rupa, seni drama/teater, dan seni kerajinan. Strategi pembelajaran seni menekankan pada aspek keterampilan, kecakapan hidup (life skill) dan pendekatan kontekstual. Kontekstual dengan materi, tujuan, sasaran, hasil, pelatih, sumber, lingkungan, waktu, dan metode. Pembelajaran seni di sana dimanfaatkan sebagai media transformasi budaya (pembudayaan) melalui nilai-nilai estetika, etika dan agama. Seni dapat difungsikan untuk memberdayakan anak jalanan, baik secara pribadi, sosial, dan ekonomi. Pembelajaran seni di sanggar Alang-alang ibarat pisau bermata dua. Mata pisau yang satu untuk membedah persoalan budaya anak jalanan, sedangkan mata pisau yang lain untuk memberdayakan anak jalanan.
Copyrights © 2008