Jurnal Anestesiologi Indonesia
Vol 6, No 1 (2014): Jurnal Anestesiologi Indonesia

Angka Kejadian dan Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Infeksi Paska Pemasangan Kateter Vena Sentral di Rumah Sakit Dr. Soetomo

Eka Seprianti Widiastuti (Bagian Anestesiologi dan Terapi Intensif, Fakultas Kedokteran, Universitas Airlangga/ RSUD Dr. Soetomo Surabaya)
Bambang Wahjuprajitno (Bagian Anestesiologi dan Terapi Intensif, Fakultas Kedokteran, Universitas Airlangga/ RSUD Dr. Soetomo Surabaya)



Article Info

Publish Date
01 Mar 2014

Abstract

Latar Belakang : Setiap tahun lebih dari 150 juta kateter intravena digunakan , dimana 5 juta dari mereka dipasang pada vena sentral . Sayangnya , lebih dari 500.000 infeksi yang terkait dengan pemasangan alat secara intravaskular melalui aliran darah terjadi di AS setiap tahun , 7-20 % disebabkan oleh central venous catheter - related blodstream infection ( CR - BSI ) . CR - BSI terkait dengan perpanjangan lama tinggal di rumah sakit , meningkatkan biaya dan kematian. Beberapa faktor yang mempengaruhi terjadinya CR - BSI seperti tempat penyuntikan, prosedur pemasangan yang steril maksimal, dressing transparan, perawatan tanpa teknik aseptik, penggunaan nutrisi parenteral dan inotropikik katekolamin, kondisi pasien , dan banyak lagi. Belum ada data tentang kejadian CR - BSI dan faktor-faktor yang mempengaruhinya di Rumah Sakit Umum Dr Soetomo, .Tujuan : Menghitung angka kejadian CR - BSI dan menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhinya di Dr Soetomo Surabaya .Metode : Prosedur penelitian dimulai sejak CVC dipasang pada pasien, data dasar dicatat seperti identitas, kondisi awal, komorbiditas , dan teknik pemasangan. Pasien diikuti untuk mengevaluasi teknik perawatan CVC, pemakaian antibiotik sistemik, penggunaan nutrisi parenteral dan inotropikik katekolamin, serta dugaan CR - BSI. Kultur darah dilakukan bila dicurigai infeksi timbul ( baik secara klinis dan menggunakan Skor IPS), dan kemudian diagnosis CR - BSI dibuat . Semua data dicatat sampai CVC telah dilepas dan pasien keluar dari rumah sakit .Hasil : Ada 15 kasus CR - BSI pada 139 pasien, total durasi pemakaian CVC adalah 1.751 hari, sehingga tingkat CR - BSI 8.57 kasus per 1000 hari penggunaan CVC. Tingkat tertinggi adalah di bangsal neurologi, 35,71 kasus per 1000 hari penggunaan CVC. Lama tinggal di rumah sakit ( p = 0,032 ), durasi penggunaan CVC ( p = 0,002 ), penggunaan nutrisi parenteral ( p = 0,000 ), penggunaan inotropikik katekolamin ( p = 0,041 ), skor APACHE II ( p = 0,000 ), infeksi sebelum pemakaian CVC ( p = 0,039 ) dan infeksi di tempat lain ( p = 0,033 ) merupakan faktor signifikan yang mempengaruhi kejadian CR - BSI . Namun, jika faktor-faktor ini diperiksa bersama-sama, durasi penggunaan CVC ( p = 0,030 ), penggunaan nutrisi parenteral ( p = 0,005 ), dan skor APACHE II ( p = 0,006 ) memberikan pengaruh yang dominan terhadap CR - BSI .Kesimpulan : Angka kejadian CR - BSI di Dr Soetomo Rumah Sakit Umum tinggi, sedangkan durasi CVC digunakan, penggunaan nutrisi parenteral , dan skor APACHE II sebagai faktor paling dominan yang mempengaruhi kejadian infeksi tersebut .

Copyrights © 2014






Journal Info

Abbrev

JAI

Publisher

Subject

Health Professions Medicine & Pharmacology Public Health

Description

Jurnal Anestesiologi Indonesia (JAI) diterbitkan oleh Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif (PERDATIN) dan dikelola oleh Program Studi Anestesiologi dan Terapi Intensif Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro (UNDIP) bekerjasama dengan Perhimpunan Dokter Spesialis ...