Secara kodrati manusia diciptakan berpasang-pasangan dengan lawan jenisnya, namun pada kenyataannya terdapat sejumlah minoritas manusia yang bisa berpasangan dan melakukan hubungan seksual dengan sesama jenis, maupun dengan keduanya sekaligus atau yang lebih sering disebut biseksual. Keberadaan kaum biseksual tidak terlalu nampak seperti halnya kaum homoseksual, karena orang-orang dengan status biseksual cenderung menyembunyikan dari lingkungan. Biseksual terbentuk dari beberapa faktor seperti proses pengkombinasian pengalaman, kepercayaan, pemahaman yang dimiliki individu sepanjang hidup dimulai dari masa kanak-kanak hingga saat ini. Oleh karena itu, peneliti tertarik untuk meneliti pembentukan identitas diri pada wanita biseksual yang berada dalam kategori usia dewasa muda. Tujuan utama penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana identitas terbentuk dalam diri wanita biseksual sebagai bentuk kesadaran individu mengenai siapa dirinya, apa yang menjadi pilihannya, dan apa yang dipertahankannya. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif dengan pendekatan fenomenologis yang menggunakan teknik pengumpulan data dengan wawancara (depth interview) dengan informan yang berjumlah 3 orang. Hasil menunjukan bahwa ketiga informan mengaku mengalami kelainan orientasi seksual yaitu biseksual. Terdapat perbedaan pencapaian status identitas yag dialami ketiga informan. Hanya satu informan yang telah mencapai identity achivement ketika mencapai usia dewasa awal, sedangkan dua informan lainnya masih menyelesaikan tahap identity moratorium ketika mencapai usia dewasa awal.
Copyrights © 2016