Tuna daksa berusaha melawan perasaan rendah diri akibat ketidaksempurnaan fisik yang dimilikinya, perasaan tersebut mendorong tuna daksa untuk mencapai keberhasilan di suatu bidang. Penelitian ini bermaksud memahami pengalaman psikologis pelukis kaki pada Association of Mouth and Foot Painting Artist (AMFPA). Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif fenomenologis, DFI (Deskripsi Fenomenologi Individual) karena memiliki prosedur analisis data yang terperinci mulai dari episode sebelum menjadi pelukis hingga sudah menjadi pelukis. Metode pengumpulan data yang digunakan adalah wawancara. Subjek penelitian berjumlah dua orang yang diperoleh menggunakan teknik purposive sampling. Hasil riset menunjukan bahwa pengalaman psikologis subjek melalui tiga episode: 1) Episode sebelum menjadi pelukis subjek mengalihkan perasaan rendah diri dengan menggambar menggunakan kaki, membaca buku dan mengembangkan keterampilan; 2) Episode awal berisi tentang usaha subjek unggul di bidang seni lukis dengan menjadi pribadi yang kreatif, yaitu giat berlatih, fokus dan menikmati proses, banyak mencari referensi ide, serta mampu meningkatkan kualitas hasil lukisan; 3) Episode setelah menjadi pelukis berisikan bagaimana subjek memaknai karya lukisan. SS memaknai karya seni sebagai sarana komunikasi untuk menyampaikan pesan dalam membangun arti pada hidup, sedangkan SH memaknai karya lukisan sebagai daya motivasi yang membangkitkan semangat untuk bisa meraih keberhasilan.
Copyrights © 2015