Tuntutan pada ayah untuk berpartisipasi lebih aktif dalam pengasuhan dan sosialisasi terkait anak dan keluarga telah mengalami peningkatan selama beberapa dekade ini. Peningkatan ini dihadapkan pada tantangan terkait kompleksitas peran laki-laki yang kemudian berimplikasi pada keterlibatannya dalam pengasuhan anak. Metode penelitian ini adalah kualitatif dengan pendekatan fenomenologis serta dianalisis dengan deskripsi fenomenologis individual agar mendapatkan gambaran menyeluruh. Penggalian data utama dilakukan dengan depth interview. Subjek penelitian sejumlah tiga orang dengan kriteria yaitu, ayah yang bekerja, ayah yang memiliki anak berprestasi dan atau tidak mengalami kenakalan, dan ayah yang menjadi tokoh masyarakat khususnya dalam pengasuhan anak. Tujuan utama dari penelitian ini adalah untuk memahami bentuk-bentuk dan faktor yang berpengaruh pada ayah dalam pengasuhan dengan kondisi tersebut. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengasuhan dimulai sejak seorang ayah memilih pasangan. Bentuk pengasuhan mengacu pada beberapa pola yaitu pola asuh islami, mengedepankan egalitarian, autoritatif, dan mengarahkan minat bakat anak. Esensi dari keterlibatan ayah adalah usaha sadar yang berfokus pada tujuan membentuk anak sholeh dan matang dalam berbagai aspek, dengan berprinsip bahwa anak adalah jalan kesuksesan dunia dan akhirat. Faktor yang berpengaruh adalah karakter, kebiasaan dan konsep diri sebagai pemimpin, yang dipengaruhi riwayat perkembangannya terdahulu. Faktor pendukung yaitu pengalaman mengasuh pribadi dan orang lain, dukungan pekerjaan, istri dan sekolah anak. Faktor penghambat adalah tekhnologi, nilai-nilai masyarakat yang kontradiktif, dan minimnya waktu. Temuan unik penelitian ini adalah prinsip hidup religius yang mendasari segala peran yang dijalani subjek.
Copyrights © 2015