Emansipasi wanita yang semakin marak belakangan ini semakin memberikan jalan bagi para wanita dewasa untuk semakin berkarya dan memaksimalkan potensi-potensi yang mereka miliki. Banyak dari ibu muda yang memiliki karir bagus rela melepaskan karirnya demi dapat mengabdi terhadap kehidupan rumah tangganya, namun ada juga istri-istri yang rela hidup terpisah dengan suaminya demi menunjang karir masing-masing dan juga demi memperbaiki kesejahteraan keluarga (dual-career, commuter marriage).Metode penelitian yang digunakan adalah studi kualitatif fenomenologis dengan analisis DFI (deskripsi fenomenal individual). Subjek berjumlah tiga orang dengan karakteristik: memiliki pekerjaan dan tinggal terpisah dengan suami, usia pernikahan maksimal 5 tahun, dan memiliki sedikit anak atau belum sama sekali. Metode pengumpulan data yang digunakan adalah wawancara terstruktur dan observasi, didukung dengan menggunakan materi audio.Berdasarkan penelitian yang dilakukan didapatkan hasil bahwa subjek mengalami beberapa masalah psikologis selama menjalani commuter marriage, subjek#1 menyatakan bahwa kehidupan yang sedang dijalani tidaklah normal seperti yang lainnya karena harus tinggal berjauhan dengan suami dan anaknya dan hanya bisa bertemu saat akhir pekan saja, serta merasakan ketidakstabilan emosi saat awal berpisah, subjek#2 merasa sedih dan kesepian, dan subjek#3 merasa berat saat di awal-awal pernikahan. Berbagai cara dilakukan oleh ketiga subjek agar mulai terbiasa dengan situasi tersebut selain itu dengan adanya dukungan dari keluarga serta tempat kerja dapat membuat ketiga subjek menjadi sedikit lebih mudah dalam menjalani pernikahan tersebut.
Copyrights © 2013