Kemampuan beberapa tanaman untuk mengakumulasi dan mengubah bentuk anorganik selenium menjadi senyawa organik bioaktif memiliki implikasi penting bagi gizi dan kesehatan manusia. Bawang putih dan bawang merah termasuk sayuran yang kaya dengan senyawa selenium. Perlakuan pengayaan selenium biasanya mengalami perubahan metabolisme tertentu yang menentukan produk akhir serta translokasi dan akumulasi dalam jaringan tanaman yang berbeda. Tujuan literature review ini adalah untuk membandingkan metode-metode analisis yang dapat digunakan dalam menganalisis kadar selenium total dalam sampel sayuran sehingga didapatkan metode yang paling baik yang diperoleh dari beberapa parameter kritis pengujian. Beberapa metode penentuan kadar selenium dalam tumbuhan telah dikembangkan mencakup spektrometri emisi plasma-optik induktif, kromatografi cair, kromatografi gas, dan fluoresensi atomik. Metode spektrometri emisi plasma-optik induktif rentan akan gangguan unsur besi (Fe) pada sampel. Metode Kromatografi Cair Kinerja Tinggi (KCKT) memungkinkan pemisahan pada material kolom pada tekanan tinggi hingga 108 Pa menggunakan diameter partikel 1,7 µm, yang dapat meningkatkan efisiensi, resolusi dan kecepatan pemisahan. Metode kromatografi gas dapat menganalisis selenium yang bersifat volatil. Metode fluoresens atomik yang didasarkan pada resonansi fluoresens memiliki batas deteksi hingga satuan ppb. Pemilihan metode pada akhirnya disesuaikan dengan jenis dan kadar selenium yang terkandung dalam sampel.Kata Kunci : Fluoresens Atomik, Kromatografi, Sayuran, Selenium
Copyrights © 2018