AbstractRecent days witness the prominence of ‘virtual silly debate’, often associated with the increase usage of social media by the millennial generation. According to the psychological approach, the youth engagement in the silly debate is driven by their unstable, selfish, and emotional psychological traits. I argue that the young engagement in the silly debate is triggered by their inability to filter the content of the social media, currently dominated by hate speech and hoax. The youth believe that such content represents the truth and try to defend it as hard as possible. To address the problem, we need to enforce the law and educate the young to competently handling content published in social media. Another solution is internalizing Pancasila values and norms that can encourage the young to use social media productively.AbstrakDebat kusir virtual yang bersifat absurd adalah salah satu gejala yang berkaitan dengan hubungan antara generasi milenial dengan media sosial. Menurut pendekatan psikologis, gejala itu adalah konsekuensi dari ciri-ciri generasi muda yang memang labil, egois, emosional. Solusi untuk mengatasinya adalah perbaikan atas berbagai kondisi psikologis tersebut. Artikel ini ingin melengkapi aspek-aspek yang kurang dibahas dalam pendekatan psikologis tersebut, dengan menawarkan argumen bahwa penyebab dari munculnya gejala itu adalah karena generasi milenial seringkali terpapar oleh konten-konten ujaran kebencian dan hoax. Penyebab lainnya adalah generasi milenial cenderung rentan terhadap konten-konten yang disebarkan melalui sosial media tanpa kemampuan untuk menyaringnya secara kritis. Mereka sangat meyakini bahwa konten-konten itu adalah fakta sehingga berupaya untuk mempertahankannya dengan keras. Sosialisasi dan penerapan peraturan, literasi media sosial adalah beberapa cara yang bersifat eksternal yang dapat dilakukan untuk mengatasi persoalan tersebut. Cara lainnya, yang bersifat internal, adalah menanamkan berbagai nilai dan norma kebajikan hidup, sebagai warga negara, yang bersumber pada Pancasila serta mendorong generasi milenial untuk melakukan berbagai kegiatan produktif di media sosial.
Copyrights © 2018