Buletin Alara
Vol 7, No 3 (2006): April 2006

PERKEMBANGAN TENAGA NUKLIR DI DUNIA

Gatot Suhariyomo (Pusat Teknologi Keselamatan dan Metrologi Radiasi – BATAN • Jalan Cinere Pasar Jumat, Jakarta – 12440 • PO Box 7043 JKSKL, Jakarta – 12070)



Article Info

Publish Date
09 Dec 2014

Abstract

Percobaan senjata nuklir buatan manusia telah menambah radioaktivitas yang telah ada secara alami dalam skala dunia. Walaupun percobaan senjata nuklir dikurangi secara besarbesaran sejak tahun 1962, ketakutan akan perang nuklir tetap ada. Pembangunan tenaga nuklir untuk maksud damai berjalan terus dan harus dipercepat, karena persediaan bahan bakar fosil (seperti bensin, minyak tanah dan lain-lain) sudah menipis. Hal ini berarti dengan bertambahnya tenaga nuklir, kekurangan energi listrik dapat diatasi. Akan tetapi volume limbah radioaktif harus diantisipasi, dipantau dan dikendalikan, seperti yang harus dilakukan terhadap bahan berbahaya dan beracun (B3) [1]. Letusan gunung St. Helens lebih berbahaya dibandingkan dengan bencana nuklir di Three Mile Island (TMI) pada tahun 1979, karena gunung tersebut mengeluarkan jauh lebih banyak zat dan sinar radioaktif ke atmosfer [2]. Jika dioperasikan secara layak, reaktor nuklir tidak memberikan resiko kesehatan yang berarti. Kecelakaan nuklir terhitung sebagai kecelakaan berdampak besar, namun berpeluang kecil untuk terjadinya kecelakaan. Hal ini terjadi dalam bencana Chernobyl pada tahun 1986, yakni melelehnya inti sebuah reaktor nuklir yang menyebabkan lolosnya radioaktif. Tetapi di Amerika Serikat dan beberapa negara tidak ada reaktor yang desainnya serupa dengan reaktor Chernobyl. Resiko dan pengelolaan limbah tenaga nuklir (titik awal dan akhir daur bahan bakar) juga merupakan persoalan yang umum diperdebatkan. Akan tetapi hal ini sudah banyak diantisipasi dengan salah satu metode pengelolaan limbah puluhan bahkan ratusan km di bawah tanah yang dikungkung beton di sekelilingnya atau juga disebut penyimpanan limbah lestari. Pada makalah ini akan dikemukakan tentang perkembangan tenaga nuklir di dunia, sekaligus pokok-pokok permasalahannya serta pengelolaan limbah nuklir ke lingkungan, dan pemecahan untuk menganalisa permasalahan yang ada. Hal ini perlu diketahui sebagai bahan pertimbangan untuk dapat mengantisipasi hal-hal yang tidak diharapkan mungkin terjadi, mengingat pemerintah Indonesia berencana akan membangun pembangkit listrik tenaga nuklir di masa yang akan datang.

Copyrights © 2006






Journal Info

Abbrev

Alara

Publisher

Subject

Arts Humanities Earth & Planetary Sciences

Description

Buletin Alara terbit pertama kali pada Bulan Agustus 1997 dengan frekuensi terbit tiga kali dalam setahun (Agustus, Desember dan April) ini diharapkan dapat menjadi salah satu sarana informasi, komunikasi dan diskusi di antara para peneliti dan pemerhati masalah keselamatan radiasi dan lingkungan ...