Saat ini untuk memenuhi kebutuhan energi listrik pemerintah mencanangkan program pembangunan pembangkit listrik 10.000 MW. Salah satu implementasinya dengan membangun Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) berbahan bakar batubara seperti PLTU Kuala Tungkal di Kabupaten Tanjung Jabung Barat, Propinsi Jambi. Permasalahan utama kegiatan PLTU adalah suhu air buangan yang jauh lebih tinggi dari suhu perairan di sekitarnya. Kenaikan suhu ini selain akan mengurangi efisiensi sistem pendinginan juga dapat membahayakan kehidupan aquatik. Untuk meminimalkan dampak perlu dilakukan pemodelan adveksi/dispersi panas sebelum dilakukan pembangunan PLTU. Dengan pemodelan ini akan diketahui sebaran panas buangan PLTU secara 3-dimensi, sehingga sejak awal dapat dilakukan upaya-upaya untuk mengurangi dampak negatif yang muncul. Selain itu model ini dapat dipakai sebagai bahan pertimbangan dalam penentuan lokasi intake dan outfall sistem air pendingin. Studi ini dilakukan dalam beberapa skenario dengan menggunakan perangkat lunak MIKE 3. Berdasarkan hasil pemodelan diketahui bahwa resirkulasi air pendingin dengan intensitas cukup kecil (<0,3 oC) diprediksi dapat terjadi pada saat air pasang menjadi lebih parah bila debit sungai dari hulu berkurang. Sebaran air bahang dengan perbedaan temperatur terhadap suhu air ambien (ÃŽâ€T) > 2 oC, hanya terjadi pada daerah yang sangat terbatas, yaitu maksimum sekitar 45 m ke arah timur dari lokasi outfall. ÂÂ
Copyrights © 2018