Penelitian tentang intonasi memang bukanlah penelitian yang baru di dunia bahasa, tetapi penelitian tersebut dapat dikategorikan sebagai penelitian yang unik dalam dunia bahasa. Hal tersebut karena dalam penelitian intonasi mengkaji aspek bahasa yang berhubungan dengan sifat-sifat bunyi bahasa sebagai hasil dari getaran pita suara. Penelitian tentang intonasi ini merupakan bagian dari fonetik suprasegmental. Fonetik suprasegmental dibagi menjadi dua, yakni fonetik artikulatoris dan fonetik akustik. Intonasi masuk ke dalam kajian fonetik akustik karena penelitian tersebut mengkaji bunyi-bunyi bahasa menurut sifat-sifatya sebagai getaran udara. Penelitian tentang intonasi ini berfokus pada data yang berupa kata atau kalimat lisan yang sifatnya agitatif. Agitatif artinya mendorong atau menggerakkan seseorang untuk melakukan suatu tindakan atau aksi. Sumber data penelitian ini adalah rekaman suara pidato Soekarno yang diperoleh dari berbagai sumber di internet. Tujuan penelitian ini adalah untuk menghasilkan deskripsi tentang intonasi agitatif dalam pidato Soekarno yang dibatasi pada penggunaan nada, tekanan, dan jeda. Hal tersebut karena intonasi berkaitan dengan nada, tekanan, dan jeda. Hasil penelitian ini ditemukan penggunaan nada agitatif dalam pidato Soekarno terjadi secara inklinasi (frekuensi bunyi di akhir ujaran lebih tinggi dibandingkan dengan di awal ujaran) dan deklinasi (frekuensi bunyi di awal ujaran lebih tinggi dibandingkan dengan di akhir ujaran). Tekanan agitatif dalam pidato Soekarno cenderung bertekanan atau berkategori tekanan keras. Tekanan keras diperoleh dari penentuan nilai intensitas tertinggi dan terendah dalam pidato Soekarno yang sifatnya agitatif. Jeda agitatif dalam pidato Soekarno cenderung hanya terdapat pada agitatif berbentuk ujaran yang panjang atau kalimat. Pada agitatif yang berbentuk ujaran pendek atau kata cenderung tidak terdapat jeda.
Copyrights © 2017