AbstrakJurnal ini membahas terkait dengan pola komunikasi politik dalam hate speech dan hoax melalui media sosial. Democracy virtual menjanjikan kebebasan berpartisipasi dalam ranah politik. Hal ini didukung oleh perkembangan teknologi yang pesat sehingga mampu menyajikan fenomena hate speech dan hoax. Media sosial merupakan media baru dalam mengekspresikan pendapat telah menjadi primadona dikalangan masyarakat. Sehingga penggunaan media sosial dimanfaatkan untuk menyebarluaskan informasi yang belum tentu kebenarannya. Sehingga junal ini akan menyajikan pola komunikasi politik dalam penyebarluasan pemberitaan hate speech dan hoax. Teori yang digunakan adalah komunikasi politik yang mana menyebutkan bahwa komunikasi politik memiliki power dalam melakukan persuasif terhadap pembaca melalui konten isi serta intensitas. Metode yang digunakan yakni kualitatif-deskriptif. Teknik pengumpulan data menggunakan studi literatur. Teknik analisa data menggunakan analisa media sosial dan data sekunder. Hate speech dan hoax telah mewarnai setiap proses menjelang Pilpres 2019. Bahkan sebelum masa pencalonan hingga masa kampanye pola hate speech dan hoax sudah terlihat dalam media sosial. Pola pemberitaan hate speech dan hoax dilakukan seefektif mungkin agar dapat mempengaruhi pembaca. Sehingga pembaca mampu terbawa arus pemberitaan dan mempengaruhi pola pikir masyarakat terhadap aktor politik. Dalam jangka panjang, hate speech dan hoax akan mempengaruhi pembaca terkait pilihan dalam Pilpres 2019. Fenomena ini menunjukkan bahwa penggunaan media sosial dalam penyebarluasan pemberitaan sangat efekif untu mempengaruhi pembaca. Selain media sosial memiliki tingkat fleksibilitas yang tinggi dalam penyebarluasan informasi, media sosial juga tidak membuthkan waktu yang lama dalam menghimpun massa.
Copyrights © 2019