Kegagalan produk mengandung unsur ketidakpastian yang disebabkan selama proses produksi berlangsung. Metode Lean Six Sigma diharapkan mampu mengidentifikasi waste yang terjadi pada proses produksi dan mendapatkan kategori waste yang berpengaruh pada kualitas kulit samak. Metode FMEA diintegrasikan dengan metode fuzzy untuk mendapatkan prioritas tindakan perbaikan yang lebih baik. Terdapat 8 jenis cacat kulit samak dan 4 jenis cacat prioritas, sekaligus menjadi CTQ yaitu open grain, snei, fish eyes, dan cracking. Metode FMEA menghasilkan nilai RPN tertinggi yaitu open grain dengan nilai 576 dan nilai RPN tertinggi kedua 448 dari jenis cacat fish eyes. Jenis cacat cracking juga memiliki nilai RPN sebesar 448. Fuzzy dapat mengeliminasi nilai RPN yang sama dan menentukan tindakan perbaikan prioritas
Copyrights © 2018