Dalam tradisi kristiani, Filsafat sangat erat dikaitkan dengan teologi. Sebab “ credo ut intelligam†dan "fides quaerens intellectum". Filsafat melayani pemahaman iman. Namun, tradisi memperlihatkan juga bagaimana terutama filsafat humanis dan ilmu-ilmu modern yang empiris –rasional menantang pemahaman dan penghayatan iman. Kini, setelah ilmu pengetahuan modern dan teknologi menjadi kontroversial, sementara filsafat mengingatkan IPTEK akan de-humanisasi, dan agama-agama baru mengungkapkan kerinduan akan Yang Transenden, tumbuhlah juga kesadaran bahwa hehidupan begitu luas sehingga diperlukan kerja sama pengetahuan lebih daripada kontroversi. Tak ada lagi pengetahuan – termasuk teologi - yang mendaku (claim) diri paling benar. Bagaimana dikembangkan kerja sama terlebih dahulu antara filsafat dan teologi?
Copyrights © 2001