Kesehatan mental telah menjadi isu global di berbagai negara sehingga diperlukan penanganan yang serius terhadap isu ini. Di Indonesia sendiri, masyarakat yang mengalami gangguan mental semakin meningkat tajam. Sejalan dengan meningkatnya jumlah komunitas di media sosial yang menyuarakan pentingnya kesehatan mental, ada optimisme bahwa upaya kesehatan mental dapat dilakukan juga melalui media sosial. Namun, benarkah media sosial dapat membangun semangat volunteer (ingin ikut terlibat secara langsung) karena keintiman yang terjalin didalamnya? Berdasarkan uraian tersebut, penelitian ini dilakukan untuk mengetahui konsep keintiman yang terbentuk dalam gerakan sosial kesehatan mental berdasarkan social information processing theory. Penelitian ini menggunakan konsep keintiman dari teori social information processing oleh Joseph Walther. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus pada individu – individu di Komunitas Sehatmental.id. Pengumpulan data dilakukan dengan wawancara mendalam terhadap 7 informan dari Komunitas Sehatmental.id. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa keintiman tidak terjadi pada individu – individu di Komunitas Sehatmental.id. Hubungan yang terbentuk bersifat impersonal karena hanya berfokus pada peran masing – masing anggota di dalam komunitas dan kegiatan yang akan dilaksanakan. Hal ini berdampak pada anggota volunter yang sering berganti – ganti di dalam Komunitas Sehatmental.id. Kecepatan respon yang diberikan saat berinteraksi pun tidak membuat anggota komunitas merasa lebih dekat satu sama lain. Hasil penelitian menunjukkan penggunaan kata “kita” atau “kamu” dapat membuat followers merasa dilibatkan. Namun, interaksi di media sosial sering kali dirasa tidak cukup sehingga perlu dilakukan pertemuan tatap muka di antara anggota dengan pengurus.
Copyrights © 2020