Abstrak. Di antara ras-ras yang menghuni wilayah Asia, bangsa petutur bahasa Austronesia adalah yang palingluas wilayah pengaruhnya. Pengaruhnya tidak ditemui di Asia Tenggara kepulauan saja, bahkan dijumpai dikepulauan Pasifik dan Madagaskar. Pengaruh itupun tidak saja teridentifkasi pada bahasa yang berkembang diwilayah-wilayah baru, tetapi tampak pula pada jejak-jejak teknologi yang menunjukkan perkawinan teknologiantara tradisi budaya logam Austronesia dan lokal. Demikian pula pada aspek religiusnya, bukti-bukti menunjukkanbahwa adanya pengenalan tradisi penggunaan wadah kubur, bekal kubur, dan pendirian monumen megalitik.Berangkat dari hal tersebut, tulisan ini membahas hasil penelitian arkeologi di Lembah Besoa dalam upaya memahamitradisi budaya Austronesia di Sulawesi sekitar 3000 tahun yang lalu. Pengumpulan data dilakukan dengan ekskavasipada sejumlah lubang uji, baik pada situs maupun dalam kalamba. Hasil analisis arkeologis menunjukkan bahwakalamba yang berbentuk tong-tong batu tidak ditemukan di Lembah Besoa saja, tetapi dijumpai pula di Sarawak,Danau Toba, Donggo, Laos, dan Assam. Namun demikian, yang mencirikan tradisi budaya Austronesia adalahlumpang batu dan batu dulang yang mengindikasikan telah dikenalnya kegiatan perladangan dan domestikasihewan. Di lain pihak, pendukung budaya Lembah Besoa memiliki kedekatan DNA (Deoxyribonucleic acid) denganmasyarakat Kajang yang bermukim di Sulawesi Selatan, yang mengarahkan dugaan bahwa ada kesamaanketurunan atau pernah terjadi interaksi genetik pada kedua komunitas tersebut pada masa lampau. Interaksitersebut diperkuat dengan bukti-bukti artefaktual, antara lain kesamaan manik-manik dan gerabah slip merah.
Copyrights © 2010