Penelitian ini merupakan studi antropologi kesenian mengenai pergelaran Bantengan kelompok “Banteng Wareng” di Kelurahan Madyopuro, Kota Malang. Bantengan merupakan perpaduan pertunjukan tari, olah kanuragan, serta atraksi hewan banteng yang dimainkan oleh dua orang sebagai kepala dan ekor. Atraksi utama pergelaran Bantengan adalah adanya roh leluhur yang memasuki tubuh para pemain sehingga terjadi trance (kesurupan). Pergelaran Bantengan melibatkan praktik magis tengah populer di era globalisasi. Dalam antropologi kesenian dikenal pendekatan konteks yakni mendeskripsikan fenomena kesenian yang menekankan pada sisi sosial-kultural. Pengumpulan data penelitian ini menggunakan pengamatan (observation) dan wawancara mendalam (indepth interview). Hasil penelitian menunjukkan adanya dimensi-dimensi pada pergelaran Bantengan“Banteng Wareng” di Kelurahan Madyopuro. Pertama, dimensi sosial, yakni pergelaran Bantengan di Madyopuro hidup dan tumbuh atas inisiatif warga setempat untuk menghidupkan kegiatan lingkungan serta berfungsi sebagai hiburan. Kedua, dimensi kultural, yakni Bantengan memuat tradisi budaya Jawa yang masih dilestarikan hingga saat ini. Tradisi tersebut tampak dalam praktik ritual sebelum pergelaran Bantengan yang dilakukan di pohon beringin. Di pohon beringin inilah berdiam arwah leluhur yang dipercaya sebagai pembabat alas Desa Madyopuro. Praktik-praktik dalam pergelaran Bantengan ini tidak rasional, di luar nalar manusia, serta mengandung sisi magis. Fenomena sosial-budaya dalam pergelaran Bantengan dapat didekonstruksi dalam sudut pandang posmodernisme. Pemikiran posmodernisme menghargai, menggali kearifan masa lalu dan bersikap mendengar segala pemikiran yang dianggap tabu, irasional, mistis dan magis. Seperti halnya pergelaran Bantengan yang diberi nafas kehidupan oleh kelompok“Banteng Wareng”, sejatinya menandai adanya gerakan revitalisasi budaya.
Copyrights © 2019