PROSIDING: SENI, TEKNOLOGI, DAN MASYARAKAT
Vol 2 (2019): Seni, Teknologi, dan Masyarakat #4

Taufiqur Rahman AUGMENTED REALITY SEBAGAI MEDIA PEMBELAJARAN INTERAKTIF SENI TARI RANTAYA DI ISI SURAKARTA

Taufiqur Rahman (Fakultas Seni Rupa dan Desain, Institut Seni Indonesia Surakarta)
Johan Patar Hutapea (Fakultas Seni Rupa dan Desain, Institut Seni Indonesia Surakarta)
Latifah Azmul Fauzi (Fakultas Seni Rupa dan Desain, Institut Seni Indonesia Surakarta)
Siti Cholifatur Rohmaniah (Fakultas Seni Rupa dan Desain, Institut Seni Indonesia Surakarta)
Rendya Adi Kurniawan (Fakultas Seni Rupa dan Desain, Institut Seni Indonesia Surakarta)



Article Info

Publish Date
27 Jan 2020

Abstract

Setiap daerah di Nusantara ini memiliki perbedaan tradisi dan budayanya masing-masing, seperti seni tari.Seni tari tradisi Nusantara didalamnya banyak mengandung muatan tentang pendidikan karakter sebagaimedia transformasi nilai-nilai kehidupan dalam kepribadian seseorang dalam lingkungan masyarakat. Surakartaterdapat tari khas daerah yang sudah menjadi kebanggaan bernama Tari Gaya Surakarta yang merupakansalah satu tari tradisi yang turun-temurun masih menggunakan waton-waton atau patokan-patokan yang telahditentukan oleh para empu tari terdahulu. Tari Rantaya termasuk Tari Gaya Surakarta yang diajarkan kepadamahasiswa Prodi Seni Tari, Fakultas Seni Pertunjukkan, ISI Surakarta pada semester II, IV, dan VI.Permasalahan dari mahasiswa mengenai Tari Putra Alus ini antara lain, ritme yang sulit, pasangan menariyang kurang mahir, keterbatasan waktu latihan dalam kelas, mahasiswa hanya mengandalkan mahasiswalain yang hafal dalam pengajaran di dalam kelas, media buku materi yang terbatas, dan kurangnya mediapenunjang lain sebagai referensi visual. Upaya percepatan dan pengembangan pendidikan ke depan sangatdibutuhkan adanya inovasi dan kreasi pembelajaran yang lebih baik. Augmented Reality (AR) sebagai hasilberupa teknologi yang menggabungkan benda maya dua dimensi dan ataupun tiga dimensi ke dalam sebuahlingkungan nyata tiga dimensi lalu memproyeksikan benda-benda maya tersebut dalam waktu nyata. Tahapanperancangan AR, yaitu : Concept (Pengonsepan), Design (Perancangan), Material Collecting (PengumpulanBahan), Assembly (Pembuatan), Testing (Pengujian), dan Distribution (Pendistribusian). Hasil perancanganini dibagi menjadi tiga karya desain yaitu : desain buku materi Rantaya, desain aplikasi Augmented Reality(AR), dan desain modelling. Teknologi ini sangat membantu pembelajaran Tari Rantaya, mudahpengoperasiannya dan dapat diulang-ulang agar mahasiswa Prodi Seni Tari FSP ISI Surakarta dapat melakukantarian tersebut sehingga materi perkuliahan dapat berjalan lancer. Augmented Reality (AR) dapat menjadisolusi ke depannya, sehingga seni budaya nusantara dapat dipelajari dan dikembangkan agar tetap lestarisekaligus menjaga warisan leluhur agar tidak punah.

Copyrights © 2020






Journal Info

Abbrev

SemHas

Publisher

Subject

Arts Humanities

Description

Seni, teknologi, dan masyarakat dewasa ini telah menyatu dalam praktik penelitian dan pengabdian masyarakat di perguruan tinggi seni. Tidak ada lagi jarak antara praktik seni dan teknologi, terutama dengan masyarakat. Pemisaha antara disiplin sain dan teknologi dengan sosial, humaniora, dan seni ...