Lapangan Panas Bumi Wayang Windu, Jawa Barat merupakan lapangan yang sudah beroperasi dan dalam tahap pengembangan. Untuk meningkatkan produksi maka harus ditemukan area prospek baru dengan membangun konseptual model panas bumi yang lebih detil. Metode Magnetotelluric (MT), Controlled Source Audio-Frequency Magnetotelluirc (CSAMT), dan Time Domain Electromagnetic (TDEM) merupakan metode geofisika elektromagnetik yang efektif dalam menggambarkan konseptual panas bumi berdasarkan kontras nilai resistivitas batuan di bawah permukaan. Efek heterogenitas medium di dekat permukaan menyebabkan efek pergeseran statik pada kurva resistivitas semu, sehingga perlu dikoreksi menggunakan data Time Domain Electromagnetic (TDEM). Informasi geologi berupa struktur sesar dan variasi litologi serta informasi suhu, kedalaman reservoar dan kondisi litologi bawah permukaan dari data lubang bor diperlukan pada tahap interpretasi. Hubungan antara slope resistivitas, gradien resistivitas (RG), serta gradien suhu dapat digunakan memprediksi klasifikasi potensi sumur dari produksi sangat tinggi sampai sangat rendah. Interpretasi model resistivitas bawah permukaan menunjukan nilai resistivitas overburden >40 ohm.m, batuan penudung <5 ohm.m, batuan reservoar >5 – 40 ohm.m, dan sumber panas >100 ohm.m. Kedalaman top of reservoir bervariasi dari 750 – 900 meter di bawah permukaan. Integrasi data geofisika, geologi, dan sumur menghasilkan model konseptual panas bumi lapangan Wayang Windu yang merepresentasikan zona up flow, out flow, primary recharge, secondary recharge, patahan, rekahan, dan sebaran litologi bawah permukaan.
Copyrights © 2017