Stigmatisasi negatif atas perilaku masyarakat Samin yang sangat nyleneh memiiki sejarahnya sendiri. Sikap masyarakat Samin dengan tidak taat pajak, identika dengan kebodohan, menolak budaya baru, tidak mau sekolah formal, tidak mau taat pada pemerintah kolonial Belanda merupakan hal yang perlu diteliti lebih lanjut dan illmiah. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptis-analitis untuk mengambarkan sejarah masalah lalu pada masyarakat Samin secara kritis. Sedangkan metode hermeneutika. Metode Hermeneutika ini menggunakan teori dari pemikiran Wilhelm Dilthey dengan tujuan untuk mengungkap peristiwa masa lalu dari masyarakat Samin tahun 1890-1919. Hasil penelitian ini mengatakan bahwa, dalam mengkaji sejarah masyarakat Samin perlu memahami (verstehen) terhadap persoalan masa lalunya. Stigma negatif masyarakat Samin tidak bisa dilepaskan dari sejarah masa lalu atas penjajahan kolonialisme dengan cara memaksa atas kerja paksa dan harus membayar pajak. Secara intrinsik, masyarakat berpura-berpura bodoh agar tidak dimanfaatkan oleh orang orang kolonial, sehingga mau membayar pajak, mau ikut kerjasama dengan Belanda. Dibalik, knyelenehanya itu, masyarakat Samin memiliki perilaku yang positif, yakni sikap drengkei srei, tukar padu, dahpen, aja dikutil jumput, mbhedog colong artinya sikap jangan iri hati, jangan suka bertengkar, jangan mengambil yang bukan miliknya dan jangan mencuri. Stigma negatif itulah yang perlu diluruskan dari proses sejarah masa lalu dari masyarakat Samin yang ternyata mereka juga memiliki sikap dan tindakan perilaku yang baik.
Copyrights © 2020