Abstrak: Artikel ini menggambarkan usaha calon legislatif (caleg) perempuan di Nusa Tenggara Timur (NTT) pada pemilihan umum 2019 di tengah maraknya patronase. Politik patronase menjadi kendala utama bagi perempuan. Mereka diperhadapkan pada situasi yang mengharuskan patronase dalam meraih dukungan. Pengalaman politik dan nomor urut menunjang pencalonan perempuan. Meski itu penting, uang menjadi sangat vital dalam pencalonan. Biaya dalam jumlah besar diperlukan untuk pengadaan alat peraga kampanye, operasional pribadi dan tim, biaya bantuan ke pemilih, hingga biaya pengawalan suara pada hari pemilihan. Tuntutan patronase merupakan situasi yang dilematis bagi sebagian caleg perempuan. Mereka tidak lagi menonjolkan agenda politik perempuan dalam kampanye mereka. Pemilih lebih merespons isu-isu konkret dan bantuan material yang mungkin diperoleh dari caleg. Para caleg perempuan membutuhkan pendanaan, jaringan personal dan kekerabatan, yang mayoritas dimonopoli laki-laki. Tanpa itu semua, begitu sulit bagi perempuan untuk terpilih. Kata kunci: Keterpilihan, Kandidat Perempuan, Patronase, Pemilu 2019, NTT
Copyrights © 2020