Penelitian ini bertujuan mendiskripsikan dan menjelaskan budaya politik Kerajaan Soppeng: dari To Manurung sampai pada integrasi pemerintahan La Mata Esso pada tahun 1575. Metode yang digunakan adalah metode sejarah, yaitu tahap pengumpulan sumber atau proses heuristic; tahap kritik sumber, terutama yang menyangkut kredibilitas atau dapat tidaknya sumber dipercaya; tahap interpretasi atau penafsiran sumber; dan tahap penyajian sejarah atau historiografi dalam bentuk kisah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Kerajaan Soppeng tidak serta merta ada. Sejarah panjang menunjukkan bahwa munculnya To Manurung mengubah bentuk pemerintahan dari enam puluh menjadi tiga matoa, kemudian melahirkan dua kerajaan kembar di Soppeng, yaitu Kerajaan Soppeng Riaja dan Kerajaan Soppeng Rilau. Kedua kerajaan tersebut pada akhirnya bersatu menjadi Kerajaan Soppeng karena adanya perang saudara dan rajanya bernama La Mata Esso.
Copyrights © 2016