Benarkah cerita rakyat dapat digunakan sebagai pembentuk karakter (siswa)? Tidakkah pemikiran ini terkesan hiperbolis; berlebihan? Bagaimana mungkin cerita rakyat yang fiksional dan irasional itu dapat berfungsi semacam ideologi? Sejumlah pertanyaan lain untuk menegaskan keragu-raguan itu tentu saja masih dapat kita deretkan dan skeptisme itu bukanlah hal yang berlebihan mengingat masyarakat kita dewasa ini, bahkan masyarakat dunia sudah melompat jauh ke depan meninggalkan banyak hal yang berbau tradisional. Gagasan sebagaimana yang tersurat pada judul makalah ini pun, boleh saja dianggap terlalu mengada-ada. Meskipun begitu, tentu saja kita punya hak untuk coba menawarkan gagasan ini. Bahwa ada yang orang setuju atau tidak setuju, itu persoalan lain lagi. Mari kita coba telusuri!
Copyrights © 2012