Belimbing hutan (Baccaurea angulata Merr.) merupakan salah satu tumbuhan yang berasal dari Kalimantan yang buahnya diketahui memiliki potensi sebagai antimikroba. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui senyawa metabolit sekunder dan efektivitas antibakteri ekstrak kulit batang belimbing hutan dalam menghambat pertumbuhan bakteri S. aureus dan E. coli. Pada penelitian ini dilakukan ekstraksi, uji fitokimia, dan penentuan aktivitas antibakteri dengan metode difusi sumur. Hasil uji fitokimia kulit batang belimbing hutan pada ekstrak metanol positif mengandung senyawa alkaloid, terpenoid, saponin dan polifenol, fraksi etil asetat positif mengandung senyawa flavonoid, saponin dan polifenol, fraksi n-heksana positif mengandung senyawa terpenoid, sedangkan pada fraksi metanol positif mengandung senyawa alkaloid, flavonoid, terpenoid, saponin dan polifenol. Berdasarkan hasil pengujian aktivitas antibakteri, fraksi etil asetat memiliki kemampuan penghambatan terhadap S. aureus dengan diameter zona hambat pada konsentrasi 100 mg/mL sebesar 3,51 mm, namun tidak dapat menghambat pertumbuhan E. coli. Sedangkan ekstrak metanol, fraksi n-heksana dan fraksi metanol tidak aktif dalam menghambat S.aureus dan E. coli. Hasil penelitian menunjukan bahwa ekstrak kulit batang belimbing hutan tidak berpotensi sebagai antibakteri terhadap bakteri S.aureus dan E. coli. Kata Kunci: antibakteri, metode difusi sumur, Baccaurea angulata Merr
Copyrights © 2015