Pembangunan nasional direcoki oleh hoax, yaitu informasi palsu, berita bohong, dan fakta yang dipelintir demi kepentingan tertentu. Fenomena ini sebagai konsekuensi kemajuan pesat teknologi informasi. Liberalisasi informasi dan transparansi komunikasi nyaris tidak terbentung. Energi bangsa terkuras untuk hal-hal yang tidak begitu penting, sehingga laju pembangunan pun tersendat. Media sosial dengan bermacam-macam hoax-nya sudah sangat dominan dalam relasi dengan masyarakat. Tulisan ini merupakan pengembangan dari hasil penelitian yang dilakukan penulis, yaitu Penelitian “Keberpihakan Pers dalam Konflik Ambon (Analisis Framing terhadap Pemberitaan Suara Pembaruan, Republika, dan Kompas).†Penelitian tersebut dilakukan pada tahun 2002. Kesimpulan dari pengembangan penelitian tersebut adalah, bahwa pendekatan kritis merupakan jawaban. Melalui pendekatan kritis pemberdayaan masyarakat dilakukan untuk menghadapi hoax, sehingga tidak mudah “termakan†informasi palsu, berita bohong, dan fakta yang dipelintir. Pendekatan Kritis menjadi sangat relevan pada saat bangsa ini menyongsong pemilihan presiden (Pilpres) 2019, ketika hoax makin merajalela dengan sentuhan-sentuhan bernuansa suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA). Pendekatan Kritis dapat diterapkan untuk mengeliminasi ancaman-ancaman terhadap keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
Copyrights © 2018