Turunnya kekebalan tubuh dapat memicu terjadinya infeksi oportunistik. Antiretroviral (ARV) dapat menurunkan insiden infeksi oportunistik secara drastis, akan tetapi terapi ARV tidak dapat menggantikan kebutuhan terhadap profilaksis antimikrobial dan antiinfeksi pada pasien dengan imunosupresi yang berat. Pemberian obat non ARV seperti antifungi maupun antibiotik dapat membunuh atau menghambat perkembangan bakteri dari infeksi oportunistik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui persentase kejadian infeksi oportunistik serta pengobatan non ARV yang digunakan pasien HIV/AIDS di RSUD dr.Soedarso Pontianak. Penelitian ini merupakan penelitian observasional dengan rancangan penelitian potong lintang dan menggunakan metode purposive sampling. Data diperoleh dari 58 rekam medik pasien HIV/AIDS dengan infeksi oportunistik periode 2018 menunjukkan bahwa kejadian infeksi oportunistik terbanyak diderita pasien laki-laki dengan rentang usia 26-35 tahun. Infeksi oportunistik yang banyak terjadi adalah TB paru, pneumonia, diare, dan kandidiasis oral. Obat non ARV yang banyak digunakan adalah ceftriaxon, kotrimoksazol, obat anti tuberkulosis (rifampisisn, isoniazid, etambutol, dan pirazinamid). Kesimpulan dari penelitian ini adalah TB paru sebanyak 32 (55.2%) merupakan infeksi oportunistik yang paling banyak terjadi pada pasien HIV/AIDS di RSUD dr.Soedarso Pontianak dan penggunaan obat non ARV yang paling dominan digunakan adalah ceftriaxon dengan dosis 1 gram.
Copyrights © 2019