Litera
Vol 17, No 1: LITERA MARET 2018

SISTEM KEPENGARANGAN DALAM SERAT-SERAT WULANG PAKUBUWONO IX

Sri Harti Widyastuti (Universitas Negeri Yogyakarta)



Article Info

Publish Date
26 Mar 2018

Abstract

Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan sistem kepengarangan dalam serat-serat wulang Pakubuwono (PB) IX. Data penelitian berupa kata dan kalimat yang menunjukkan sistem kepengarangan dalam serat-serat wulang PB IX. Pengumpulan data dengan metode filologi modern. Analisis data menggunakan metode deskriptif dengan penerapan teori asal-usul teks. Hasil penelitian sebagai berikut. Pertama, terdapat peran PB IX sebagai pengarang dan penulis atau ingkang anganggit dan ingkang anyerat dalam serat-serat wulang PB IX. Peran ini dibantu oleh penulis kerajaan untuk mengikat karyanya. Peran tersebut ditunjukkan penggunaan gaya tuturan dengan penyebutan kata adikku, guruku Ngabdul Kahar, guruningwang, trahingwang, anakku, woting tyasingsun, dan sutengsun. Kedua, terdapat peran PB IX sebagai pengayom. Peran ini tampak pada manggala dan kolofon teks yang diikuti bentuk sengkalan. Yang memiliki peran pengayom biasanya adalah seorang pujangga kerajaan atau penulis kerajaan yang cukup ternama. Dalam serat-serat wulang PB IX ini muncul pengarang dan penulis, yaitu Nyai Tumenggung Adisara.Kata kunci: serat wulang, Pakubuwono IX, pengayom, filologi modern THE AUTHORSHIP SYSTEM IN SERAT-SERAT WULANG BY PAKUBUWONO IXAbstractThis study aims to describe the authorship system in serat-serat wulang (teaching works) by Pakubuwono (PB)IX. The data were in the form of words and sentences describing the authorship system in serat-serat wulang by PB IX. They were collected using the modern philology method. The data analysis used the descriptive method by applying theories on the origins of texts. The results are as follows. First, there are roles of PB IX as the author (ingkang anganggit) and the writer (ingkang anyerat) in serat-serat wulang PB IX. These roles are assisted by the court author in order to bind the works. The roles are shown in the use of some special terms such as adikku, guruku Ngabdul Kahar, guruningwang, trahingsun, anakku, woting tyasingsun, and sutengsun. Second, there is a role of PB IX as pengayom (patron). This is shown in manggala and the text colophon followed by a form of sengkalan (chronogram). A patron is usually a famous court poet or writer. In serat-serat wulang by PB IX, there is an author or writer, namely Nyai Tumenggung Adisara.Keywords: serat-serat wulang, Pakubuwono IX, patron, modern philology

Copyrights © 2018






Journal Info

Abbrev

litera

Publisher

Subject

Languange, Linguistic, Communication & Media

Description

LITERA is a high quality open access peer reviewed research journal that is published by Faculty of Languages and Arts, Universitas Negeri Yogyakarta. LITERA is providing a platform for the researchers, academicians, professionals, practitioners, and students to impart and share knowledge in the ...