Down Syndrome merupakan penyakit kelainan kromosom yang diikuti oleh keterbelakangan fisik dan mental. MenurutWHO (World Health Organizations), terdapat 8 juta penduduk pengidap Down Syndrome sedunia. Sedangkan di Indonesiasendiri, di Indonesia sendiri, studi epidemiologi RISKESDAS menyatakan angka kecacatan Down Syndrome di Indonesiamemiliki nilai sebesar 0.12% pada tahun 2010 dan terjadi peningkatan sebesar 0.13% pada tahun 2013. Angka ini terus meningkattiap tahunnya. Dalam mengakomodasi kebutuhan penderita Down Syndrome, maka disediakan SLB sebagai wadah pendidikandan fasilitas rehabilitasi medik untuk upaya pemulihan. Akan tetapi di Kota Semarang, belum terdapat tempat yang secara khususmenangani penderita Down Syndrome. Faktanya, fasilitas yang ada masih terintegrasi dengan pengguna disabilitas lain sehinggahal ini dianggap kurang efektif dan efisien.Pusat Rehabilitasi dan Pendidikan Down Syndrome dirancang untuk menjadi habitat atau wadah yang dapat memenuhikebutuhan utama para penderita Down Syndrome yakni pendidikan, kesehatan, dan kesejahteraan sosial di Kota Semarang sertadiharapkan pengguna dapat hidup berdampingan dengan pengguna non difabel, mengasah softskill maupun hardskill penderitaDown Syndrome, juga membangun dan meningkatkan konektivitas antara penderita Down Syndrome dengan non difabel.Penggunaan pendekatan arsitektur multisensori juga diharapkan mampu membantu proses pemulihan dan perkembangansecara lebih cepat melalui stimulasi kemampuan sensorik dan motorik bawaan dari penderita Down Syndrome.
Copyrights © 2020