Sejarah setiap agama hampir pasti menoreh sisi kekerasan di dalam menegakkan ajarannya. Barangkali gambaran suram agama inilah yang mengekskalasi munculnya berbagai asumsi tentang hipokritik ajaran dari dari agama, di satu sisi mengajarkan kedamaian tetapi di sisi lain juga mengajarkan kekerasan. Memang secara eksplisit tidak ada agama yang mengajarkan kekerasan, tetapi secara implisit kedamaian yang diajarkan agama itu mau tidak mau harus memakai tumbal yang berupa kekerasan. Terlepas dari benar tidaknya fenomena ini, realitas yang muncul justru mendukung komitmen bahwa sejarah agama itu “selalu†berwarna “merahâ€, dan, dengan menelusuri akar normative agama dan realitas tentang munculnya kekerasan di dalam agama.
Copyrights © 2003