Damarwulan adalah salah satu tokoh populer di Jawa yang ceritanya sering diangkat dalam pertunjukan wayang krucil, Langendriya (sendratari perempuan), dan ketoprak. Damarwulan menceritakan tentang pertikaian antara kerajaan Majapahit dan Blambangan, di mana Damarwulan memperoleh kemenangan. Kepopuleran kisah Damarwulan membuat dongeng rakyat ini sudah beberapa kali ditayangkan dalam bentuk film. Hal tersebut menarik untuk diteliti karena kedua karya dibuat oleh orang yang berbeda dengan latar belakang sosial budaya yang berbeda pula, tetapi kedua roman mempunyai kesamaan atau kesejajaran motif. Kesejajaran tersebut terletak pada ide cerita, yaitu mengenai kisah cinta antara laki-laki dan perempuan. Kesejajaran motif juga terdapat pada asal atau garis keturunan tokoh yang berasal dari kalangan bangsawan. Metode penyuntingan teks Hikayat Damarwulan menggunakan edisi standar. Hasil dari penyuntingan ditemukan 25 lakuna, 2 adisi, 12 subtitusi, dan 3 ditografi. Hikayat Damarwulan mempunyai struktur naratif biografis. Pola struktur naratif dalam Hikayat Damarwulan dan film Damar Wulan terdiri atas unit pembuka, unit tengah, dan unit penutup. Unit tengah adalah bagian yang memuat inti cerita. Unit tersebut menjadi bagian paling dominan dan terpenting. Perbedaan unsur naratif antara hikayat dan film disebabkan oleh faktor sosial, durasi, serta peristiwa yang tidak dapat divisualisasikan.
Copyrights © 2019