Dalam upayanya untuk memajukan industri pertahanan di kawasan Asia Tenggara, Association of Southeast Asian Nations (ASEAN) membentuk suatu kerangka kerja sama yang disebut sebagai ASEAN Defense Industry Collaboration (ADIC). Kolaborasi ini merupakan bagian dari kerja sama forum ASEAN Defense Minister Meeting (ADMM). ADIC dibentuk untuk membentuk suatu platform alat pertahanan ataupun persenjataan yang dapat digunakan secara bersama dengan biaya yang cukup rendah. Negara-negara Asia Tenggara yang terlibat di dalam ADIC pun merupakan negara yang memiliki kapabilitas militer dan industri pertahanan yang cukup mumpuni di kawasan. Akan tetapi, hingga saat ini ADIC belum menunjukkan perkembangan yang signifikan. Penelitian ini dilakukan setelah melihat perkembangan signifikan dari kerja sama serupa yang sudah lebih dahulu berdiri di Eropa, yaitu kerja sama konsorsium Eurofighter. Tulisan ini bermaksud untuk meninjau mengenai ketergantungan negara-negara anggota ADIC dalam melakukan importasi persenjataan kepada negara-negara besar di luar kawasan, melalui metode penelitian kualitatif dan kerangka analisis Arms Transfer Dependence dari David Kinsella. Penelitian ini menunjukkan adanya kecenderungan dari masing-masing negara anggota ADIC untuk bergantung kepada major powers di luar kawasan dalam memperkuat pertahanannya dalam melakukan pembelian persenjataan berat.
Copyrights © 2020