Manggarai merupakan sebuah kawasan vital di daerah Jakarta Selatan yang penuh dengan aktivitas. Di lain sisi, kawasan ini tetap diselimuti dengan kompleksitas permasalahan yang terjadi di dalamnya. Disintegrasi struktur urban pada sarana tranportasi mengakibatkan kawasan ini tidak maksimal dalam menggerakkan aktivitas kota. Kondisi ini mengakibatkan terjadinya kekacauan dan ketidakteraturan pada wilayah tersebut. Terdapat friksi sosial yang terjadi antar masyarakat Manggarai dengan adanya fenomena tawuran yang bisa terjadi kapan saja. Hal ini menimbulkan keresahan dan juga kerugian bagi masyarakat yang terdampak. Manggarai juga kini kehilangan sebuah wadah berkumpul bagi warganya, yaitu Pasaraya yang sekarang seakan “mati”. Permasalahan tersebut masih terasa di Manggarai hingga saat ini. Permasalahan di atas direspon dengan mengajukan sebuah rancangan arsitektural dengan Concept Based Framework untuk langsung menentukan solusi dan fungsi dalam rancangan. Untuk mengontrol kondisi yang ada, pendekatan behavior setting diimplentasikan dalam rancangan. Metode transprogramming dan superimpose digunakan untuk menyusun program dalam elemen rancang. Serta, kontekstualisme menjadi metode untuk mengeluarkan ekspresi elemen kawasan Manggarai ke dalam rancangan. Dengan harapan berfungsi sebagai katalis, perancangan difokuskan untuk meningkatkan integrasi, konektivitas, dan permeabilitas kawasan Manggarai yang akan menciptakan vitalisasi kawasan itu sendiri. Pengintegrasian dari berbagai sisi, baik secara sosial, ruang, dan konteks urban dalam penciptaan wadah komunal, akan berperan dalam menciptakan interaksi antar elemen dan juga kontrol pada kawasan Manggarai. Yang pada akhirnya, akan tercipta kondisi yang teratur diantara ketidakteraturan Manggarai.
Copyrights © 2020