Penelitian ini adalah untuk mengungkapkan fenomena umum yang tergambar dari kehidupan kekuatan sosial politik (Orde Baru, Parpol dan Golkar) terkesan terlalu kaku, struktural, institusional dan formalistik. Seluruh kekuatan sosial politik baik secara diam – diam maupun terang – terangan diarahkan untuk memberikan dukungan berupa legitimasi yang kuat kepada pemerintahan Orde Baru. Runtuhnya rezim orde baru “Soeharto” selaku Ketua Dewan Pembina partai golkar pada tahun 1998 ternyata tidak membawa dampak negatif terhadap kesisteman partai Golkar DIY walaupun di tingkat pusat terjadi pergolakan yang sangat luar biasa, sehingga atas kebijakan anggota partai golkar di dewan pusat mendesak diadakannya Munaslub yang dihadiri oleh semua perwakilan partai golkar baik ditingkat kabupaten/kota maupun propinsi di seluruh Indonesia guna menata kembali (restrukturisasi) kesisteman partai. Penelitin ini menggunakan metode penelitian diskriptif. Fokus penelitiannya adalah derajat kesisteman (systemness) terdiri dari : Asal usul partai, sumber pendanaan, peran pemimpin partai, faksionalisme (pengelompokan), klientelisme (pertukaran dukungan). Jenis dan sumber data didapatkan dari data primer dan data sekunder. Populasi dan sample adalah pengurus DPD Partai golkar DIY. Teknik pengumpulan datanya yaitu melalui, dokumentasi serta wawancara langsung. Teknis analisis data yang di gunakan adalah teknis analisis data kualitatif. Nilai-nilai dan praktik demokrasi sangatlah penting bagi institusionalisasi demokratis dan perkembangan ketangguhan partai Golkar. Tingkat Kesisteman di DPD Partai Golkar Propinsi DIY khususnya, dalam proses internal organisasi partai politik menuju sebuah organisasi yang terlembaga secara mapan, kompleksitas, norma dan perilakunya berdasarkan nilai-nilai yang disepakati bersama yang ditentukan oleh dimensi derajat kesisteman (systemness).
Copyrights © 2021