Bioetanol merupakan salah satu solusi pemerintah dalam mengganti BBM untuk menghadapi keterbatasan minyak dunia. Bioetanol dapat dengan mudah diproduksi dari bahan bergula dan berserat seperti singkong. Namun, untuk membudidayakan singkong sebagai bahan baku bioetanol diperlukan lahan yang berkualitas dan tentunya dapat digunakan dalam jangka panjang karena itu perlu adanya syarat tumbuh untuk menentukan kelayakan lahan. Logika fuzzy digunakan untuk membantu menentukan kelayakan lahan dengan segala ketidakpastian yang ada. Dalam sistem ini dilakukan survei lahan singkong didaerah Jawa Tengah. Dimana hasil pertanian singkong disana dijadikan sebagai bahan baku bioetanol oleh salah satu perusahaan kimia. Penentuan kelayakan lahan menggunakan 5(lima) parameter yaitu, ketersediaan air, kondisi tanah, sejarah lahan, nilai ekonomis dan naungan. Basis pengetahuan berupa aturan dari kombinasi himpunan fuzzy semua parameter, sebagai pendukung pengambilan keputusan layak tidaknya suatu lahan singkong sebagai bahan baku bioetanol. Sistem ini mampu memutuskan apakah suatu lahan dapat dikatakan sangat layak, layak, kurang layak atau tidak layak untuk ditanami singkong sebagai bahan baku bioetanol. 46% lahan dinyatakan layak, 2% tidak layak, dan sisanya kurang layak. Parameter yang perlu dikaji ulang untuk penelitian lebih lanjut adalah parameter nilai ekonomis, dan naungan lahan. Karena dua parameter ini umumnya bernilai kecil. Keywords/Kata kunci:logika fuzzy, kelayakan lahan, bioetanol, sistem pendukung keputusan
Copyrights © 2011