Masalah pengangguran merupakan salah satu masalah makro ekonomi yang menjadi penghambat dalam pembangunan suatu negara atau daerah. Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) sejak tahun 2011 dan awal tahun 2020 mengalami penurunan tetapi cenderung melambat. Padahal, pemerintah Indonesia melalui Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) menargetkan tingkat pengangguran bisa makin mengecil menjadi di bawah 4% pada tahun 2024. Salah satu program pemerintah, yang dicanangkan sejak awal pemerintahan 2019, untuk mengurangi tingkat pengangguran adalah dengan menerbitkan kartu prakerja. Selain itu juga menjadi salah satu solusi untuk menstimulasi para pekerja yang di-PHK, ataupun orang-orang yang mengalami kesulitan mencari pekerjaan pada masa pandemi. Pro dan kontra mengenai kartu prakerja terus bergulir dalam berbagai macam media. Twitter menjadi salah satu media sosial yang digemari oleh banyak masyarakat dunia termasuk di Indonesia dalam menyampaikan aspirasi, kegemaran, dan pendapatnya. Pro kontra yang hangat dibincangkan di twitter mengenai kartu prakerja menjadi hal yang perlu diperhatikan untuk penyempurnaan kebijakan tersebut. Untuk menganalisis respon masyarakat dengan menggunakan data Twitter, dapat dilakukan dengan analisis sentiment menggunakan metode pengklasifikasian Naïve Bayes. Dari model pengklasifikasian data original, training ataupun testing diperoleh hasil persentase respon berupa sentimen negatif terkait kartu prakerja adalah 52.87% lebih besar dibandingkan persentase sentiment positif sebesar 47.13%. Dan juga didapatkan nilai akurasi sebesar 91.06% dari keseluruhan tweet yang diuji.
Copyrights © 2020