“Mengintip” menjadi sebuah kata kerja yang khas saat kita berbicara mengenai proses pembuatan film—di mana director of photography atau pengarah fotografi menggunakan viewfinder untuk berkonsentrasi dalam melihat imaji yang hendak diciptakan. Ini pula yang membuat istilah “budaya intip” menjadi istilah yang diasosiasikan dengan proses berkelanjutan. Namun, pada saat teknologi digital hadir menggantikan film seluloid, salah satu konsekuensinya adalah ikut menghilangnya budaya tersebut. Kehadiran monitor pada kamera digital kian lama kian mendominasi dan menggantikan posisi viewfinder. Alih-alih budaya intip bertransformasi menjadi budaya menonton semata. Apa ada makna-makna yang hilang saat penggunaan viewfinder (budaya intip) digantikan dengan monitor (budaya menonton) dalam proses pembuatan film?
Copyrights © 2018