Jurnal Energi dan Lingkungan (Enerlink)
Vol. 14 No. 2 (2018)

ANALISA TEKNO-EKONOMI BIO-CNG SEBAGAI BAHAN BAKAR GAS TERBARUKAN DI INDONESIA

Yudiartono Yudiartono (Pusat Pengkajian Industri Proses dan Energi (PPIPE) Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT))
Ira Fitriana (Pusat Pengkajian Industri Proses dan Energi (PPIPE) Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT))
Ratna Etie Puspita Dewi (Pusat Pengkajian Industri Proses dan Energi (PPIPE) Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT))
Prima Trie Wijaya (Pusat Pengkajian Industri Proses dan Energi (PPIPE) Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT))
Nona Niode (Pusat Pengkajian Industri Proses dan Energi (PPIPE) Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT))
Nini Gustriani (Pusat Pengkajian Industri Proses dan Energi (PPIPE) Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT))



Article Info

Publish Date
03 Aug 2020

Abstract

Produksi limbah cair pengolahan kelapa sawit (POME) yang berlimpah di Indonesia menjadi faktorpendukung yang perlu menjadi perhatian, karena akan menimbulkan masalah lingkungan. Untuk itulimbah POME perlu dikonversi misalnya menjadi biogas, kemudian diupgrade menjadi biometana,agar beban pencemaran terhadap lingkungan akan berkurang. Konsep dasar upgrading biogasmenjadi biometana adalah untuk menaikkan kandungan metana (CH4) dalam raw biogas denganmenurunkan kandungan karbondioksida (CO2), untuk meningkatkan nilai kalori raw biogas. Selain itu,dilakukan pula penghapusan produk korosif, terutama hidrogen sulfida (H2S), air (H2O), dan beberapaunsur pengotor lainnya (H2, N2, O2). Proses ini dapat dilakukan dengan menerapkan berbagai jenisteknologi pembersihan dan peningkatan kualitas bogas. Teknologi tersebut diantaranya adalah aminescrubbing, water scrubbing, pressure swing adsorption, dan pemisahan membrane.Adapun distribusibiometana bisa dalam bentuk BioCNG, biasa disebut CBM (Compressed Biomethane), untukdigunakan sebagai bahan bakar pada sektor transportasi dan industri. Pola distribusi produk BioCNGyang paling layak adalah pemanfaatan BioCNG untuk kendaraan secara onsite. Model yangdigunakan berupa SPBG small fast fill, yaitu tipe SPBG dengan ukuran kecil, dimana pengisianBioCNG dilaksanakan secara cepat, seperti pengisian BBM di SPBU. Biaya pengadaan BioCNGtersebut adalah sebesar Rp. 4.242/LSP s.d. Rp. 4.563/LSP. Namun jenis distribusi denganmenggunakan tube trailers atau GTM (Gas Transport Module) ke SPBG Daughter sangat tidakekonomis, karena biaya pengadaan BioCNG-nya rata-rata lebih dari Rp. 8.000/LSP. Dengandemikian, untuk tipe distribusi jenis GTM - SPBG Daughter tidak dianjurkan untuk diterapkan diIndonesia.Kata kunci: BioCNG, Compressed Biomethane (CBM), SPBG, Gas Transport Module (GTM)

Copyrights © 2018






Journal Info

Abbrev

Enerlink

Publisher

Subject

Energy

Description

Enerlink adalah jurnal yang diterbitkan 2 kali setahun oleh Pusat Teknologi Pengembangan Sumberdaya Energi dan Industri Kimia BPPT di bidang energi dan lingkungan. Enerlink is a scientific journal that publishes twice annually by Centre of Energy Technology and Chemical Industry of ...