Patrawidya: Seri Penerbitan Penelitian Sejarah dan Budaya
Vol. 20 No. 2 (2019): Agustus

NARASI DAMPAK (ALAM DAN SOSIAL) LETUSAN GUNUNG TAMBORA 1815

Tantri, Erlita (Unknown)



Article Info

Publish Date
27 Aug 2019

Abstract

Indonesia adalah negara yang terletak di jalur ring of fire sehingga kaya akan gunung berapi, gempa tektonik dan vulkanis. Secara umum, sekitar 13 persen gunung berapi dunia ada di Indonesia (129 gunung berapi) namun dalam sejarah bencana gunung berapi dunia, setengah dari korban letusannya ada di Indonesia. Gunung Tambora merupakan salah satu gunung berapi aktif di Indonesia yang memiliki resiko letusan yang sangat dasyat. Dampak letusannya pada tahun 1815 sedikit banyak terekam dalam sejarah. Namun, bagaimanakah kondisi setelah letusan Gunung Tambora 1815 dan dampaknya (alam dan sosial) dari catatan yang terdokumentasi, baik oleh pemerintah kolonial serta lokal (mapun dari sumber lainnya)? Melalui studi literatur, tulisan ini mencoba menggambarkan secara ringkas tentang kondisi dan dampak pasca letusan Gunung Tambora pada lingkungan dan masyarakat (lokal maupun global). Letusan Gunung Tambora telah memberikan dampak kerusakan pada ekologi akibat masifnya kuantitas material yang dikeluarkan sehingga berakibat pada perubahan iklim dan lingkungan. Bahaya kelaparan, kekurangan air bersih, penyakit, tidak tersedianya pangan akibat kerusakan lahan dan perubahan musim yang berakibat pada kegagalan panen di berbagai wilayah, menjadikan letusan Gunung Tambora 1815 sebagai sejarah bencana besar di tanah air di abad ke-19. Dari kondisi pasca letusan Gunung Tambora 1815, diharapkan masyarakat memiliki pengetahuan dan kewaspadaan terhadap dasyatnya bahaya letusan Gunung Tambora. Dengan demikian, masyarakat maupun pemerintah akan memiliki pemahaman dan kesiapsiagaan dalam menghadapi periode letusan Gunung Tambora berikutnya.

Copyrights © 2019






Journal Info

Abbrev

patrawidya

Publisher

Subject

Arts Social Sciences

Description

The Patrawidya appears in a dark gray cover with a papyrus manuscript. The Patrawidya Journal is published three times a year in April, August and December. The study of the Patrawidya Journal article is on the family of history and culture. The Patrawidya name came from a combination of two words ...