AbstrakTulisan ini berargumen bahwa virus Covid-19 perlu dilihat dalam satu kesatuan fenomena budaya sehingga batasan culture dan nature dapat dihilangkan dan menghasilkan etnografi yang holistik dan valid. Pendekatan psikologis dan kesehatan cenderung menempatkan virus Covid-19 di luar kebudayaan. Pengelolaan ketakutan di tengah pandemi di masyarakat dilihat tidak kontekstual dan mengabaikan nilai-nilai kebudayaan lokal. Covid-19 perlu ditempatkan sebagai companion species yang setara dengan manusia dalam suatu kebudayaan. Penelitian ini mempelajari masyarakat Desa Kukusan, Kecamatan Kendit, Kabupaten Situbondo. Data dikumpulkan melalui fieldwork, menggunakan teknik pengumpulan data wawancara mendalam, observasi partisipan dan studi literatur. Temunan penelitian ini menunjukkan bahwa Desa Kukusan yang agamis dengan masyarakat yang kuat dalam kekerabatannya hidup berdampingan dengan Covid-19 yang dilandasi oleh pengelolaan ketakutan dan rasa malu di tengah pandemi. Pengelolaan ketakutan dan rasa malu pada saat mengalami berbagai kondisi seperti terpapar Covid-19, kematian, dan sakit di tengah pandemi memunculkan anti-fear bagi masyarakat desa Kukusan. Perspektif antropologi medis dan kesehatan yang cenderung antroposentris dan melihat suatu penyakit atau virus terpisah dari manusia membuat seolah-olah Covid-19 hanya sebagai fenomena kesehatan saja. Antropologi dengan pandangan multispesies dalam melihat isu kesehatan mencoba untuk melihat virus Covid-19 sebagai satu kesatuan utuh dalam masyarakat dan menjadi subjek aktif dalam fenomena kesehatan dan budaya. Keywords: multispecies, Covid-19, ketakutan, malu, manajemen ketakutan. AbstractThis paper argues that the Covid-19 virus needs to be seen in a unity of cultural phenomenon so that cultural and nature boundaries can be eliminated and produce holistic and valid ethnography. Psychological and health approaches tend to put the Covid-19 virus outside of culture. The management of fear in the midst of a pandemic in the community is seen as not contextual and ignores local wisdom. Covid-19 virus needs to be placed as a companion species equivalent to humans in a culture. This research studies the community of Kukusan Village, Kendit District, Situbondo Regency. The data is collected through fieldwork, using the methods of in-depth interview, participant observations and literature studies. This research shows that Kukusan Village which is religious with a strong kinship coexists with Covid-19 based on the management of fear and shame in the midst of the pandemic. Managing fear and shame when experiencing various conditions such as exposure to Covid-19 virus, death, and illness in the midst of the pandemic raises anti-fear for the people of Kukusan village. Medical anthropological perspectives that tend to be anthropocentric and see a disease or virus separate from humans make it seem as if Covid-19 is just a health phenomenon. Anthropologists with multispecies perspective in looking at health issues try to see the Covid-19 virus as a whole unity in society and become an active subject in health and cultural phenomena. Keywords: multispecies, Covid-19, fear, shame, management of fear.
Copyrights © 2021